KafeBerita.com, Blitar – Seni Tradisi Tiban kembali menjadi ruang pertemuan masyarakat Blitar dan daerah sekitar dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-702. Di tengah pertunjukan para jawara di Area Alun-Alun Kanigoro, dukungan terhadap keberlangsungan tradisi leluhur itu juga datang dari Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi bersama jajaran Fraksi PDI Perjuangan.
Supriadi menilai Tiban bukan sekadar pertunjukan yang hadir untuk memeriahkan sebuah agenda. Lebih dari itu, Tiban merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai budaya sehingga perlu dijaga sejak sekarang agar tetap lestari dan tidak kehilangan kemurniannya.
Menurut Supriadi, pelestarian seni tradisi membutuhkan kepedulian bersama. Pemerintah, masyarakat, komunitas seni, hingga generasi muda memiliki peran untuk memastikan kesenian yang diwariskan para pendahulu tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Kalau seni tradisi warisan leluhur ini kita lindungi dan lestarikan mulai sekarang, kemurniannya akan tetap terjaga. Apa yang kita rawat hari ini nantinya akan menjadi warisan yang sangat berharga bagi generasi mendatang,” ujar Supriadi.
Ia menilai keberadaan panggung Tiban menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan generasi sekarang dengan warisan budaya daerah. Pertunjukan juga memberi kesempatan kepada para pelaku seni untuk terus mengembangkan tradisi tanpa meninggalkan akar budayanya.
Dukungan terhadap Tiban tersebut tampak dari kehadiran sejumlah anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Blitar dalam pagelaran. Selain Supriadi, hadir Gatot Darwoto, Budiono, Budi Susila Jaya, Aryo Nugroho, Suratun Nasikhah, Fatatoh Hironi Ulya, dan Didik Budianto.
Kehadiran jajaran fraksi itu memperkuat pesan bahwa pelestarian kebudayaan tidak hanya menjadi urusan komunitas seni. Seni tradisi juga membutuhkan dukungan lintas unsur agar memiliki ruang untuk terus tumbuh dan diwariskan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar sekaligus Anggota DPRD Jawa Timur Guntur Wahono menegaskan, pagelaran Tiban menjadi bagian dari upaya menjaga kesenian tradisional yang berkembang di Blitar Raya dan daerah sekitarnya.
“Tentu ini juga bagian daripada upaya pemerintah daerah beserta masyarakat melindungi, melestarikan, dan merawat seni tradisi Tiban yang ada di Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan sekitarnya,” kata Guntur.
Pagelaran Sabtu (8/8/2026) mempertemukan pelaku Tiban dari Blitar dan Tulungagung. Pertunjukan berlanjut pada Minggu (9/8/2026) dengan mempertemukan jawara Blitar melawan pelaku Tiban dari Trenggalek dan Kediri.
Guntur menekankan bahwa pertarungan Tiban tetap membawa semangat persaudaraan. Para jawara memang bertarung dan mengadu kemampuan di arena, tetapi hubungan persaudaraan tetap terjaga setelah pertunjukan.
“Komitmen yang kita bangun adalah beda gaya satu rasa, di atas kita tarung, adu skill, adu keahlian, tetapi di bawah kita adalah sahabat dan saudara,” tegasnya.
Guntur juga berharap Tiban terus mendapat ruang dalam agenda Hari Jadi Kabupaten Blitar. Ia bahkan berharap pagelaran tersebut kembali digelar pada Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-703 tahun 2027.
“Dan mudah-mudahan Pak Pembina, ini untuk berikutnya masih tetap diizinkan ikut serta meramaikan dalam rangka rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar yang ke-703 di tahun 2027,” ujarnya.
Guntur menambahkan, dukungan terhadap festival Tiban tidak hanya datang dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Blitar. Bupati Blitar Rijanto turut mendukung dengan menyediakan tempat pelaksanaan di Alun-Alun Kanigoro.
Dukungan juga diberikan Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Pulung Agustanto, Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan Guntur Wahono, Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi, serta Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Basori.
Rangkaian dukungan tersebut menunjukkan bahwa Tiban tidak hanya dipandang sebagai tontonan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang perlu diberi ruang agar tetap hidup, terjaga kemurniannya, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.






