KafeBerita.com, Blitar — Menjelang peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Museum Bung Karno, Kota Blitar kembali menjadi pusat perhatian dunia. Puluhan akademisi dari 30 negara datang untuk mengenang peristiwa bersejarah yang pernah mengguncang tatanan global pada 1955. Di tengah semangat memperingati gagasan besar Soekarno itu, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin menegaskan bahwa nama Bung Karno tetap menjadi simbol perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa tertindas di dunia.
“Acara ini dalam rangka mengenang peringatan Konferensi Asia-Afrika, jadi bangsa Asia dan Afrika dulu pernah digagas oleh Bung Karno di Bandung. Kota Blitar merasa terhormat bisa menjadi tempat peringatan yang menyatukan bangsa-bangsa Asia dan Afrika,” kata Wali Kota Blitar yang akrab disapa Mas Ibin.
Mas Ibin menyampaikan hal itu saat menjamu para akademisi dan tokoh mancanegara di rumah dinasnya, Jumat malam (31/10/2025). Ia menilai, momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk refleksi atas kontribusi besar Bung Karno dalam memperjuangkan tatanan dunia yang berkeadilan.
Warisan Soekarno dan Relevansinya di Era Globalisasi
Peringatan KAA di Blitar kali ini membawa napas baru bagi diplomasi kebudayaan Indonesia. Mas Ibin menyebut, dunia internasional kini mulai kembali menengok nilai-nilai perjuangan yang pernah digelorakan Soekarno — terutama semangat melawan segala bentuk penjajahan, baik secara fisik maupun dalam wujud modern seperti ekonomi dan teknologi. “Ini sebagai kebanggaan bagi bangsa Indonesia, terutama Kota Blitar, karena mancanegara sudah mulai kembali lagi bahwa ada inspirator besar di Blitar, yaitu Bung Karno,” tutur Mas Ibin.
“Jadi bangsa-bangsa kalau mau mengenang sejarah perjuangan bangsanya, termasuk bangsa Asia dan Afrika, mau tidak mau harus datang ke Blitar mengunjungi Bung Karno,” lanjutnya.
Mas Ibin menekankan bahwa Blitar bukan sekadar kota kelahiran gagasan besar, tetapi juga ruang kontemplasi global. Bagi banyak bangsa di Asia dan Afrika, Bung Karno bukan hanya pemimpin Indonesia, melainkan tokoh universal yang mengajarkan kemandirian dan keberanian menolak dominasi kekuatan besar.
Blitar Sebagai Ruang Refleksi Dunia
Kehadiran puluhan akademisi mancanegara di Kota Blitar menjadi bukti bahwa pemikiran Bung Karno masih relevan. Mas Ibin melihat, kunjungan ini juga membuka peluang bagi Blitar untuk berkembang sebagai pusat studi sejarah dan diplomasi Asia-Afrika. Pemerintah Kota Blitar berencana memperkuat fasilitas riset, mengembangkan kawasan wisata edukatif, serta menjalin kerja sama antaruniversitas yang berfokus pada studi kemerdekaan dan politik global. “Bangsa-bangsa di dunia, baik dari Afrika maupun Asia, pasti akan melirik Blitar sebagai salah satu tujuan utama,” kata Mas Ibin.
“Bung Karno di Afrika juga terkenal, di seluruh Asia juga terkenal sebagai pemersatu bangsa,” pungkasnya.
Momentum ini sekaligus mempertegas posisi Blitar sebagai penjaga nilai kemerdekaan dan solidaritas antarbangsa. Di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis identitas nasional, Blitar hadir sebagai pengingat bahwa kemerdekaan sejati tidak sekadar lepas dari penjajahan, melainkan berani berdiri sejajar dengan bangsa lain di panggung dunia.






