KafeBerita.com, Blitar — Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) menjadi salah satu penopang utama ekonomi ribuan buruh pabrik rokok serta buruh tani tembakau dan cengkeh di Kabupaten Blitar sepanjang 2025. Meski tahun depan pemerintah pusat melakukan efisiensi anggaran, Dinas Sosial atau Dinsos Kabupaten Blitar berharap kebijakan ini tetap dapat dilanjutkan.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Kabupaten Blitar, Yuni Urinawati, menegaskan bahwa BLT DBHCHT sangat dirasakan manfaatnya oleh para penerima. BLT diberikan selama enam bulan, masing-masing sebesar Rp300 ribu per bulan untuk buruh tani tembakau dan cengkeh, serta untuk buruh pabrik rokok berdasarkan usulan perusahaan.
“Untuk penyaluran BLT yang anggarannya dari DBHCHT itu khususnya untuk Dinas Sosial adalah BLT Bantuan Langsung Tunai. Nah untuk sasaran itu adalah buruh tani tembakau, buruh pabrik rokok dan buruh tani cengkeh,” jelas Yuni.
Penyaluran dilakukan melalui rekening Bank Jatim yang dibuka khusus oleh masing-masing penerima. Proses ini memastikan transparansi sekaligus memastikan bantuan diterima tepat sasaran. “Iya, masuk rekening Bank Jatim, jadi masing-masing orang sebelum disalurkan harus buka rekening melalui Bank Jatim,” katanya.
4.000 Penerima BLT Setiap Bulan Sepanjang 2025
Dinsos mencatat jumlah penerima BLT cukup besar dan stabil dari bulan ke bulan. Mulai dari pendataan bulan Juni untuk penyaluran Juli, kemudian pendataan Juli disalurkan Agustus, dan seterusnya hingga Desember, setiap bulannya rata-rata 4.000 lebih penerima yang diajukan oleh pabrik rokok dan pemerintah desa.
Yuni menyebut desa berperan penting terutama untuk mendata buruh tani tembakau dan cengkeh karena pemerintah desa dianggap paling mengetahui riwayat pekerjaan warganya. “Kalau khusus untuk buruh tani tembakau dan cengkeh itu usulannya dari desa karena yang tahu persis bahwa warga itu adalah dia cukup buruh tani… yang tahu desa, kita nggak tahu,” ujarnya.
Bantuan yang Mengurangi Beban Hidup Buruh
Di tengah harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat, BLT DBHCHT menjadi penyelamat bagi banyak keluarga buruh. Yuni menegaskan bahwa BLT sangat membantu meringankan beban pengeluaran, khususnya bagi keluarga berpenghasilan rendah.
“Mengurangi beban pengeluaran yang sekarang itu memang semuanya ya… bahan pangan contohnya banyak sekali sekarang itu harganya semakin naik ya. Jadi paling tidak mengurangilah beban mereka dengan adanya bantuan,” ungkapnya.
Selain sebagai bantalan ekonomi, BLT dianggap sebagai bentuk keadilan bagi pekerja industri tembakau yang selama ini menjadi bagian dari rantai nilai yang turut menyumbang penerimaan negara melalui cukai. Seperti terlihat DBHCHT bisa digunakan pembangunan berbagai bidang selain untuk sosial, bisa untuk kesehatan, infrastruktur dan berbagai pemberdayaan masyarakat.
Harapan Dinsos: BLT DBHCHT Tetap Dilanjutkan di 2026
Meskipun pemerintah pusat melakukan efisiensi anggaran tahun depan, Dinsos Kabupaten Blitar berharap DBHCHT tetap memberikan ruang untuk program BLT bagi buruh pabrik rokok dan buruh tani tembakau.
“Kalau programnya saya berharap bahwa untuk anggaran DBHCHT tetap diterima lah meskipun terkait pemerintah itu kan ada efisiensi ya sekarang. Tetapi harapan saya bahwa untuk khusus untuk pabrik rokok… paling tidak ya meskipun tidak sama dengan 2025 tetapi paling tidak juga tetap diberikan,” kata Yuni.
Menurutnya, dukungan anggaran DBHCHT menjadi sangat strategis karena BLT bukan hanya menyokong ekonomi rumah tangga pekerja, tetapi juga menjaga stabilitas sosial ketika harga pangan mengalami kenaikan.
Dengan rata-rata empat ribu penerima setiap bulan dalam 6 bulan terakhir di 2025, keberlanjutan BLT DBHCHT sangat diharapkan buruh pekerja di bidang rokok dan tembakau di Kabupaten Blitar. Bantuan ini tidak hanya membantu mereka bertahan, tetapi juga menjaga daya beli lokal dan mencegah tekanan ekonomi yang lebih berat.






