KafeBerita.com, Blitar – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan Guntur Wahono menginisiasi pertemuan dengan para pelaku pariwisata di Blitar untuk mencari solusi atas menurunnya aktivitas wisata selama bulan Ramadhan. Kegiatan sosialisasi tersebut digelar pada Senin (9/3/2026) dengan mengundang para pengusaha wisata, pemilik travel, hingga para driver wisata untuk berdiskusi bersama.
Guntur menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan memanfaatkan waktu relatif lengang di sektor wisata selama Ramadhan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pariwisata. Ia menilai momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas pelaku wisata melalui diskusi dan pembelajaran.
“Mereka merasakan pendapatannya turun drastis karena situasi Ramadhan. Oleh karena itu ini tidak boleh kita biarkan. Dan nanti harapan kita melalui pertemuan ini harus membuahkan hasil dan kami merencanakan ada pertemuan lanjutan setelah lebaran dengan mempertemukan para pegiat wisata baik dengan pemerintah dan para ahli di pariwisata,” katanya.
Guntur ingin dari sosialisasinya nanti penurunan pendapatan selama bulan Ramadhan tidak terjadi lagi pada tahun-tahun ke kedepan. Jika saat Ramadhan wisatawan domestik menurun, maka wisatawan mancanegara perlu dijadikan target pasar. Kabupaten Blitar pun sebenarnya sudah punya paraturan yang membuka peluang wisatawan luar bisa masuk, tapi masih ada kendala di bidang sumber daya manusia.
“Insyallah perda atau perbup sudah ada di Kabupaten Blitar untuk pengembangan wisata. Cuma kelemahannya masih belum disosialisasikan sampai bawah. Seperti kebutuhan sertifikasi untuk guide misalnya yang ini sangat dibutuhkan, nanti kita fasilitasi mempertemukan dengan ahlinya seperti di sosialisasi kita hari ini mendatangkan dosen Universitas Adi Buana Surabaya Pak Daniel Rohi membagikan wawasannya dalam pengembangan wisata,” katanya.
Sertifikasi Guide Jadi Kebutuhan Wisata Internasional
Dalam diskusi tersebut, salah satu persoalan yang muncul adalah kebutuhan sertifikasi bagi pemandu wisata atau guide. Guntur menilai sertifikasi tersebut menjadi kebutuhan penting agar Blitar dapat melayani wisatawan mancanegara dengan lebih profesional.
Anggota dewan Jatim dari Dapil Blitar Raya dan Tulungagung ini menyebut wisata di daerahnya sebetulnya banyak dilirik turis mancanegara seperti dari Australia. Hanya saja turis itu batal karena di wisata yang ingin didatangi tidak menyediakan guide atau pemandu yang bisa menceritakan objek wisata dalam bahasa Inggris.
“Wisatawan dari luar negeri yang datang ke Blitar sebenarnya sangat tertarik. Tetapi yang mereka cari adalah guide yang memiliki sertifikasi dan mampu menerjemahkan keinginan mereka,” jelas Guntur.
Maka itu Guntur siap memfasilitasi komunikasi dengan lembaga yang memiliki kewenangan menerbitkan sertifikat yang dibutuhkan untuk pengembangan wisata semakin berdaya saing. Ia pun membuka ruang bagi pengusaha wisata di luar sana yang masih ada kesulitan untuk dibantu dengan mengikuti sosialisasinya.
“Di sosialisasi kami mempertemukan dengan para ahlinya. Juga memediasi kepada mereka yang berkompeten untuk menerbitkan sertifikasi lebih mudah dan memberi manfaat nyata,” ujar Guntur yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar.
Selain itu, Guntur juga berencana menghadirkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam pertemuan lanjutan setelah Lebaran agar berbagai persoalan yang dihadapi pelaku wisata dapat dibahas secara lebih konkret.
“Harapan kita nanti setelah Lebaran ada pertemuan lanjutan dengan menghadirkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus anggota dewan yang membidangi pariwisata,” katanya.

Potensi Wisata Blitar Dinilai Sangat Besar
Guntur menilai Kabupaten Blitar memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Namun potensi tersebut perlu dikelola secara serius agar tidak hanya menjadi potensi yang terus disebut dari tahun ke tahun tanpa pengembangan yang nyata.
“Blitar ini memang kaya potensi pariwisata. Tetapi potensi ini harus dikelola sedemikian rupa sehingga bisa menjadi objek wisata yang berkembang, tidak hanya potensi terus dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius dalam mengembangkan sektor pariwisata. Jika keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala, pemerintah daerah menurutnya dapat membuka peluang investasi untuk mengembangkan destinasi wisata.
“Kalau dari APBD tidak mampu mendukung kebutuhan pengembangan wisata, maka pemerintah daerah perlu mencari investor untuk mengelola potensi wisata yang ada di Blitar,” katanya.
Menurut Guntur, apabila sektor pariwisata berkembang dengan baik maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku wisata saja, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) serta menggerakkan perekonomian masyarakat di berbagai sektor.






