JOMBANG – Gangguan penglihatan pada anak menjadi salah satu kondisi yang tidak boleh diabaikan oleh orang tua. Penglihatan memiliki peran penting dalam mendukung proses belajar, bermain, berinteraksi, hingga tumbuh kembang anak secara optimal. Salah satu gangguan penglihatan yang perlu dikenali sejak dini adalah low vision, yaitu kondisi penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat diperbaiki secara maksimal dengan kacamata, pengobatan, maupun tindakan operasi, tetapi masih menyisakan kemampuan melihat yang dapat dimanfaatkan melalui rehabilitasi visual.
Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Mata RSUD Jombang, dr. Fatin Hamamah, Sp.M dalam Talkshow “HUMAS RSUD Jombang Menyapa” yang digelar di Studio Humas RSUD Jombang, Senin (13/7/2026). Acara yang dipandu oleh Host Ayu Karina tersebut mengangkat tema penting mengenai low vision pada anak sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan.
Dalam pemaparannya, dr. Fatin menjelaskan bahwa low vision berbeda dengan kebutaan total. Pada kondisi ini, penderita masih memiliki sisa fungsi penglihatan yang dapat dioptimalkan melalui berbagai metode rehabilitasi dan penggunaan alat bantu sehingga tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Menurut klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seseorang dikatakan mengalami low vision apabila ketajaman penglihatannya kurang dari 6/18 atau memiliki lapang pandang yang sangat sempit meskipun telah mendapatkan koreksi penglihatan secara maksimal. Kondisi tersebut berbeda dengan kebutaan total atau No Light Perception (NLP), yaitu ketika mata sudah tidak lagi mampu mendeteksi cahaya.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan penglihatan anak sebenarnya telah dimulai sejak lahir. Bayi normal akan memberikan respons terhadap cahaya dengan berkedip atau menghindari cahaya terang. Pada usia dua hingga tiga bulan, bayi mulai mampu memusatkan pandangan dan mengikuti benda yang bergerak. Memasuki usia enam bulan, kemampuan melihat kedalaman atau stereopsis mulai berkembang, kemudian terus meningkat hingga mendekati kemampuan penglihatan orang dewasa pada usia tiga sampai lima tahun. Oleh karena itu, setiap tahapan perkembangan tersebut perlu diperhatikan agar gangguan penglihatan dapat dikenali sedini mungkin.
Menurut dr. Fatin, low vision pada anak diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari seribu anak. Penyebabnya pun cukup beragam. Di negara maju, kasus low vision lebih banyak disebabkan oleh Cortical Visual Impairment (CVI), yaitu gangguan pada pusat penglihatan di otak. Sementara di negara berkembang, penyebab yang lebih sering ditemukan antara lain katarak kongenital, glaukoma kongenital, serta Retinopathy of Prematurity (ROP) yang banyak terjadi pada bayi yang lahir prematur. Selain itu, kelainan retina, saraf optik, maupun gangguan neurologis seperti meningitis juga dapat menyebabkan terganggunya proses penglihatan.
Ia menambahkan, agar seseorang dapat melihat dengan baik, cahaya harus melewati kornea, pupil, lensa, vitreus atau badan kaca, kemudian diterima retina sebelum diteruskan melalui saraf optik menuju otak untuk diproses menjadi gambar. Gangguan pada salah satu bagian tersebut, baik di mata maupun di otak, dapat menyebabkan terjadinya low vision.
Orang tua juga diimbau mengenali tanda-tanda awal gangguan penglihatan pada anak. Di antaranya bayi tidak mampu mengikuti benda yang bergerak, tidak memberikan respons terhadap cahaya, bola mata bergerak-gerak sendiri atau nistagmus, sering menggosok mata, hingga tampak sangat sensitif terhadap cahaya. Pada anak yang lebih besar, gejala dapat berupa kesulitan mengenali wajah atau benda, sering mendekatkan wajah saat melihat objek, maupun mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah karena tidak dapat melihat tulisan dengan jelas.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi ketajaman penglihatan, lapang pandang, sensitivitas kontras, serta kemampuan membedakan warna. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana fungsi penglihatan yang masih dimiliki pasien sehingga dapat ditentukan bentuk rehabilitasi visual dan alat bantu yang paling sesuai.
Apabila tidak segera ditangani, low vision dapat memberikan dampak yang luas terhadap kehidupan anak. Gangguan penglihatan dapat menghambat perkembangan motorik karena anak kesulitan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Pada kondisi tertentu juga dapat terjadi ambliopia atau mata malas dan strabismus atau mata juling. Selain dampak fisik, anak juga berisiko mengalami gangguan psikososial seperti kehilangan rasa percaya diri, kesulitan berinteraksi, hingga depresi akibat keterbatasan yang dialami. Dampak lainnya adalah terganggunya proses belajar yang pada akhirnya dapat memengaruhi pendidikan, peluang kerja, serta kualitas hidup ketika dewasa.
Dr. Fatin menegaskan bahwa keberhasilan penanganan low vision sangat ditentukan oleh deteksi dini, pemeriksaan rutin, penggunaan alat bantu yang sesuai, rehabilitasi visual, serta dukungan penuh dari keluarga. Semakin cepat gangguan dikenali, semakin besar peluang anak mempertahankan fungsi penglihatannya dan menjalani kehidupan secara mandiri.
Saat ini tersedia berbagai alat bantu yang dapat membantu penderita low vision, mulai dari kacamata khusus, kaca pembesar (magnifier), lensa teleskopik, hingga pengaturan pencahayaan dan penggunaan tulisan berukuran besar. Kemajuan teknologi juga memberikan banyak kemudahan melalui laptop, tablet, maupun telepon pintar yang dilengkapi fitur pembesaran huruf, pengaturan kontras, dan pembaca layar sehingga memudahkan anak mengikuti proses belajar.
Bahkan bagi anak yang mengalami gangguan penglihatan sangat berat, berbagai bentuk rehabilitasi seperti penggunaan huruf Braille, pelatihan orientasi dan mobilitas, serta pendidikan yang sesuai tetap memungkinkan mereka untuk belajar, mandiri, dan meraih masa depan yang baik.(*)
Menutup talkshow, dr. Fatin mengajak para orang tua untuk tidak mengabaikan setiap tanda gangguan penglihatan pada anak. Menurutnya, deteksi dini merupakan kunci utama agar anak memperoleh penanganan yang tepat dan memiliki kesempatan tumbuh, belajar, serta meraih masa depan yang optimal. Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis mata apabila menemukan keluhan atau gejala gangguan penglihatan pada anak, sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.






