KafeBerita.com, Blitar – Momentum peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar di Kota Blitar pada Sabtu (1/11/2025) tidak hanya sekadar acara seremonial belaka. Event bertema “Bung Karno in a Global History” ini memantik kesadaran baru tentang perlunya transformasi sektor pariwisata, khususnya di kawasan Makam Bung Karno. Menanggapi hal ini, Ketua DPRD Kota Blitar, dr. Syahrul Alim, secara khusus mengusulkan pembenahan menyeluruh untuk pengembangan wisata malam di kawasan tersebut.
Wisata Ziarah yang Masih “Patternya Datang-Pulang”
Syahrul mengakui bahwa pola kunjungan wisatawan ke Makam Bung Karno selama ini masih sangat singkat. “Rata-rata wisatawan ke sini datang, masuk makam, pulang lagi, paling mampir [Masjid] Arrahman terus langsung pulang,” ujarnya menggambarkan fenomena yang terjadi. Pola “datang-pulang” ini, menurutnya, menyebabkan dampak ekonomi bagi kota menjadi tidak optimal.
Minimnya daya tarik wisata malam di kawasan sekitar makam menjadi faktor utama yang membuat wisatawan tidak betah berlama-lama di Blitar. “Kita agak minim wisata malam, jadi stay untuk para wisatawan itu kurang,” tandas Syahrul.
Transformasi Kawasan Makam Menjadi Destinasi Malam
Untuk mengatasi masalah ini, Syahrul menawarkan solusi konkret. “Mungkin perlu sedikit perubahan atau istilahnya pengembangan wisata, barangkali mungkin ada tambahan-tambahan lampu-lampu atau bagaimana sehingga menarik wisatawan untuk utamanya malam hari,” paparnya.
Ide pembenahan yang diusulkan tidak hanya sekadar pencahayaan, tetapi juga menuntut kreativitas dari Dinas Pariwisata untuk menciptakan pengalaman wisata yang unik. “Ini kita harapkan kalau ada mungkin wisatanya lebih menarik lagi ditambah kreativitas dari dinas pariwisata supaya bisa menarik perhatian sehingga syukur-syukur gelem nginep (mau menginap),” harap Syahrul.
Beberapa opsi pengembangan yang bisa dipertimbangkan antara lain pertunjukan cahaya (light show) yang menampilkan kisah perjuangan Bung Karno, pemutaran film dokumenter sejarah di area terbuka, atau penataan area kuliner malam dengan sentuhan nostalgia.
Sinergi dengan Rencana Pemkot dan Dampak Ekonomi
Usulan pembenahan ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Blitar yang terus berupaya mengembangkan kawasan wisata berbasis sejarah. Pengembangan wisata malam diharapkan dapat menciptakan ekosistem wisata yang lebih komprehensif, dimana wisatawan tidak hanya melakukan ziarah tapi juga menikmati atmosfer budaya dan sejarah Blitar di malam hari.
Dampak ekonomi yang diharapkan cukup signifikan. Dengan wisatawan yang memutuskan untuk menginap, maka kebutuhan akan akomodasi, kuliner, cenderamata, dan jasa tour guide akan meningkat. Hal ini akan membuka lapangan pekerjaan baru dan menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
Menghidupkan Kembali Spirit KAA
Lebih dari sekadar strategi pariwisata, Syahrul menekankan pentingnya menghidupkan nilai-nilai historis yang dibawa Bung Karno. “Kami cenderung melihat nilai historisnya, itu salah konferensi atau perkumpulan dari mungkin negara-negara yang ketika itu agak bawah, termasuk Indonesia yang juga tertindas,” ujarnya.
Menurutnya, semangat KAA tentang solidaritas dan perlawanan terhadap penindasan masih sangat relevan hingga kini. Gagasan itu kembali muncul dari peringatan KAA yang digelar di Kota Blitar. “Jangan sampai ada satu negara ditindas oleh negara yang lain seperti contohnya kalau saat ini adalah Palestina ditindas oleh Israel. Spiritnya yang itu ya,” dr Syahrul yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Blitar.
Dengan demikian, pengembangan wisata di Makam Bung Karno tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga menjadi medium untuk menyebarkan nilai-nilai luhur yang diperjuangkan Bung Karno.
Tantangan dan Harapan Ke Depan
Meskipun ambisius, pengembangan wisata malam ini tentu memiliki tantangan tersendiri, seperti menjaga kekhidmatan kawasan makam sebagai tempat ziarah sekaligus mengembangkannya sebagai destinasi wisata yang menarik. Diperlukan perencanaan yang matang dan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk ahli waris dan masyarakat sekitar.
Namun, dengan sinergi antara DPRD, Pemkot, dan Dinas Pariwisata, serta dukungan dari masyarakat, transformasi Kawasan Makam Bung Karno menjadi destinasi wisata yang lengkap—dari pagi hingga malam—bukanlah hal yang mustahil. Harapannya, Blitar tidak hanya dikenang sebagai “Kota Ziarah” tetapi juga sebagai “Kota Sejarah yang Hidup”, dimana warisan Bung Karno terus menginspirasi generasi sekarang dan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.












