KafeBerita.com, Blitar – Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Blitar melalui vokasi terarah kembali menunjukkan hasil. Program Sang Kapten (Sertifikasi Angkatan Kerja Kompeten) tahun 2025 yang dibiayai penuh oleh Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) resmi meluluskan 143 peserta dari tujuh skema pelatihan. Seluruh peserta dinyatakan tuntas mengikuti tiga tahapan utama: pelatihan vokasi, sertifikasi BNSP, dan magang industri.
Program Sang Kapten tidak sekadar memberi pelatihan teknis, melainkan menghadirkan model pembelajaran 3 in 1 yang terintegrasi dan menyesuaikan kebutuhan nyata dunia usaha dan industri (DUDI). Format ini membuat pelatihan lebih relevan dan menghasilkan lulusan yang siap pakai.
Vokasi Berbasis Industri: Menjawab Kebutuhan Lapangan Kerja
Kepala Bidang Pelatihan Kerja, Produktivitas Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Disnaker Kabupaten Blitar, Latip Usman, menjelaskan bahwa Sang Kapten dirancang untuk mengurangi kesenjangan antara keterampilan masyarakat dan tuntutan industri modern.
Latip menekankan bahwa seluruh pelatihan tidak boleh hanya bersifat rutinitas, tetapi harus memiliki kesinambungan dengan kebutuhan pasar. “Kami menyusun pelatihan sesuai kebutuhan industri. Tujuannya agar peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga kompetensi yang benar-benar terpakai saat bekerja,” ujar Latip Usman, Selasa (18/11/2025).
Ada 7 skema pelatihan vokasi yang dibuka tahun ini, dengan total 143 peserta:
-
Barista Kopi (20 peserta)
-
Digital Marketing (25 peserta)
-
Makeup Artist (20 peserta)
-
Teknisi Peralatan Listrik Rumah Tangga (18 peserta)
-
Barber (20 peserta)
-
Juru Masak Komersial (20 peserta)
-
Hair Styling Cutting (20 peserta)
Menurut Latip, setiap kelas difasilitasi oleh instruktur profesional dari lembaga pelatihan yang telah bekerja sama dengan Disnaker. “Ini pelatihan formalitas. Kami pastikan yang mengajar adalah tenaga ahli yang menguasai industri masing-masing,” tambahnya.
Lulus Sertifikasi BNSP: Standar Kompetensi yang Diakui Nasional
Salah satu kekuatan program Sang Kapten 2025 adalah pemberian sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) terlisensi BNSP. Hal ini membuat lulusan memiliki legalitas kemampuan yang diakui nasional.
Latip menyebut bahwa sertifikasi ini sangat penting untuk memvalidasi keterampilan peserta. “Sertifikasi BNSP adalah bukti bahwa peserta memenuhi standar kerja nasional. Ini modal penting untuk masuk industri,” ungkapnya.
Di berbagai sektor seperti barista, tata rias, pemasaran digital, hingga teknisi listrik, sertifikasi menjadi syarat penting rekrutmen. Karenanya, Disnaker memberi perhatian besar agar semua peserta bisa menjalani uji kompetensi dengan baik.
Magang Industri: Jembatan Menuju Dunia Kerja
Setelah mendapatkan sertifikasi, peserta langsung memasuki tahap magang di berbagai dunia usaha dan industri. Banyak dari mereka ditempatkan di kafe, restoran, salon kecantikan, perusahaan digital, hingga layanan teknisi peralatan rumah tangga.
Magang ini bukan formalitas, melainkan tahap penting agar peserta memahami budaya kerja dan tuntutan lapangan. “Banyak peserta yang langsung direkrut tempat magangnya. Perusahaan lebih mudah percaya karena mereka sudah melihat kemampuan peserta selama magang,” jelasnya.
Magang juga menjadi media penyaringan alami untuk menemukan kecocokan antara peserta dan industri.
Peran DBHCHT: Dari Dana Pusat Menjadi Dampak Konkret
DBHCHT tahun ini difokuskan untuk mengembangkan pelatihan vokasi yang benar-benar berdampak pada peningkatan kompetensi kerja masyarakat. Sang Kapten adalah salah satu buktinya.
Latip menyebut DBHCHT sebagai motor penggerak perubahan. “DBHCHT kami manfaatkan agar pelatihan benar-benar tepat sasaran, berbasis kompetensi, dan memberi manfaat nyata bagi pencari kerja,” ujarnya.
Dengan kapasitas industri Kabupaten Blitar yang terus berkembang, kebutuhan tenaga kerja terampil turut meningkat. Karena itu, DBHCHT diarahkan agar tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga menjembatani penempatan kerja melalui magang.
Monitoring Alumni: Menjamin Efektivitas Program
Disnaker Kabupaten Blitar akan melakukan monitoring dan tracing alumni sepanjang November–Desember 2025. Tujuannya memastikan lulusan pelatihan benar-benar terserap, baik di industri, UMKM, maupun membuka usaha sendiri.
Hasil penelusuran ini akan menjadi indikator efektivitas program sekaligus dasar penyusunan kebijakan pelatihan tahun depan. “Kami tidak ingin pelatihan hanya selesai saat peserta lulus. Kami ingin memastikan mereka benar-benar mandiri dan terserap pasar tenaga kerja,” tutupnya.









