Doa Hari Pahlawan di Rumah Soekarni, Bupati Rijanto: Warga Blitar Harus Bangga

KafeBerita.com, Blitar – Malam Hari Pahlawan Nasional 2025, di sebuah rumah tua di Kelurahan Sumberdiren, Kecamatan Garum, suara tahlil berpadu. Di sini lah 107 tahun silam, lahir seorang pemuda bernama Soekarni Kartodiwirjo, salah satu tokoh yang berani mendesak proklamasi kemerdekaan Indonesia. Malam itu, Senin (10/11/2025), rumah pahlawan nasional itu kembali hidup oleh doa dipimpin langsung Bupati Blitar Rijanto bersama warga sekitar.

“Ini rangkaian kegiatan memperingati Hari Pahlawan 10 November,” ujar Rijanto dengan nada tenang, mengenang peran Bung Karni yang pada malam 16 Agustus 1945 bersama kawan-kawannya menjemput Bung Karno dan Bung Hatta untuk mendesak kemerdekaan.

“Beliau adalah tokoh pemuda bersama teman-temannya yang mengambil Bung Karno dan Bung Hatta untuk didesak memproklamasikan kemerdekaan secepat-cepatnya. Akhirnya 17 Agustus 1945 itu, tanggal 16 malam penculikan, 17 diproklamasikan. Sehingga beliau adalah salah satu pahlawan nasional yang sudah mendapatkan penghargaan dari negara,” sambungnya.

Warga yang hadir larut dalam suasana hening. Bagi mereka, rumah sederhana itu bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi simbol keberanian anak muda yang menolak tunduk pada penjajahan. Malam itu, doa dan tahlil menjadi wujud penghormatan pada sosok yang hidup dalam kenangan bangsa.

“Kita sebagai generasi penerus tentunya mengadakan peringatan pahlawan ini termasuk di rumahnya almarhum Bung Karni dengan acara doa bersama,” kata Rijanto.

Bacaan doa tahlil dipandu ustadz setempat menciptakan suasana yang menenangkan. Di antara warga tampak bapak-bapak sebagian bersarung dan berkopyah, ibu-ibu dan pemuda menggunakan busana muslim menyimak setiap pesan Bupati yang mengingatkan pentingnya mengenang para tokoh asal Blitar.

“Justru kita sebagai warga Blitar dengan adanya banyak pahlawan yang datang dari Blitar, yang dilahirkan dari Blitar, tentu ini kebanggaan kita semua. Semua generasi muda harus tahu, harus paham pahlawan-pahlawan yang lahir ataupun yang meninggal di Blitar,” ujar Bupati Rijanto.

Ia lalu menyebut tiga nama besar yang menjadi sumber inspirasi daerahnya — Bung Karni, Bung Karno, dan Shodancho Supriadi.
“Siapa itu Bung Karni, Bung Karno, Shodancho Supriadi — ini tentunya menyemangati kita untuk terus bergerak melanjutkan perjuangan,” tegasnya.

Bupati Blitar Rijanto di dalam rumah bung karni
Bupati Blitar Rijanto disambut keluarga Pahlawan Soekarni untuk makan bersama di dalam rumah pahlawan usai doa tahlil.

Bupati Rijanto kemudian mengingatkan bahwa semangat perjuangan tidak berhenti pada medan tempur, melainkan diwarisi melalui kerja keras dan gotong royong masyarakat kini.
“Beliau dalam bentuk apa? Kerja keras, gotong royong, bau membahu, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi,” ucapnya.

Selesai doa bersama, warga menikmati sajian makanan soto yang umum di acara tahlilal sebagai bentuk amal jariyah agar pahlawan Sukarni, sehingga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Di penghujung acara, Bupati Rijanto mengungkapkan harapan agar rumah kelahiran Soekarni Kartodiwirjo bisa menjadi wisata sejarah atau edukasi kepahlawanan. Namun, ia menyebut hal itu membutuhkan proses panjang dan komunikasi dengan keluarga besar ahli waris.
“Ya, mimpi itu pasti ada,” ujarnya.
“Tapi mimpi ini harus diwujudkan dalam bentuk komunikasi, konsultasi dengan semua pihak terutama para ahli warisnya. Yang tadi ahli warisnya itu tersebar di beberapa daerah, di beberapa kota, bahkan ada yang di luar negeri. Jadi mimpi itu ada, tapi untuk mewujudkan proses yang cukup panjang.”

Malam itu, di bawah langit Garum yang tenang, doa untuk pahlawan berpadu dengan rasa bangga yang mendalam. Di tanah tempat Soekarni Kartodiwirjo dilahirkan, semangat keberanian kembali menyala, menjadi pengingat bahwa dari rumah sederhana di Kabupaten Blitar, api kemerdekaan pernah dinyalakan untuk seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *