Guntur Wahono Fasilitasi Reorganisasi Paguyuban Tiban Blitar Raya, Dorong Seni Tradisi Terus Berkembang

KafeBerita.com, Blitar – Komitmen menjaga seni tradisi rakyat terus ditunjukkan oleh Guntur Wahono, anggota DPRD Jawa Timur (Jatim) dari Fraksi PDI Perjuangan. Dalam agenda reses masa sidang kedua tahun 2025–2026, Guntur memfasilitasi langsung reorganisasi kepengurusan Paguyuban Tiban Blitar Raya di Joglo Desa Tambakboyo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

Guntur menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar seremonial reses, tetapi menjadi bagian dari upaya nyata memperkuat kelembagaan seni tradisi Tiban yang berkembang pesat di Blitar Raya dan wilayah sekitarnya.

“Ini di masa sidang yang kedua, Reses kami tahun 2025–2026 saya menggelar kegiatan reorganisasi kepengurusan paguyuban Tiban Blitar Raya dan ini tadi sudah kita laksanakan kita pimpin langsung selaku pembina Tiban, sudah diputuskan melalui forum tadi terpilih ketua terpilih Pak Sokeh, sekretarisnya Pak Mbah Min Pak Tugimin, bendaharanya Pak Faizul,” kata Guntur.

Ia menilai, pembenahan struktur organisasi menjadi kebutuhan mendesak agar paguyuban seni tradisi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai asli yang diwariskan leluhur.

“Ini harapan kita periode ke depan satu periode ke depan ini bisa memperbaiki daripada organisasi paguyuban Tiban yang ada di Kabupaten Blitar raya, kabupaten dan Kota Blitar,” ujarnya.

Tiban Blitar, Dari Komunitas Kecil Menjadi Gerakan Seni Rakyat

Guntur mengungkapkan, perkembangan seni tradisi Tiban dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan respons yang sangat positif dari masyarakat. Ketika pertama kali terlibat mendampingi komunitas Tiban, jumlah kelompok yang aktif masih sangat terbatas.

“Ya seni Tiban di awal saya masuk itu hanya empat grup, sampai sekarang alhamdulillah sudah berkembang menjadi 20 grup,” ujar Guntur.

Ia menyebut, pertumbuhan serupa juga terjadi di daerah lain yang selama ini memiliki jejaring dengan komunitas Tiban Blitar.

“Begitu juga yang ada di Tulungagung yang tadinya cuma dua sekarang menjadi 11 grup,” lanjutnya.

Menurut Guntur, perkembangan tersebut menjadi indikator kuat bahwa seni Tiban bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi sudah menjadi ruang ekspresi dan identitas kolektif masyarakat.

“Dan harapannya berkembang sampai di Trenggalek, ini menunjukkan bahwa seni tradisi ini adalah satu tinggalan leluhur yang sangat diminati oleh rakyat,” kata Guntur.

Ia menegaskan, Tiban merupakan kesenian rakyat yang hidup bersama masyarakat dan selalu memiliki tempat tersendiri di setiap perhelatan budaya.

“Ini adalah seni tradisi yang sangat dicintai oleh rakyat. Di setiap event ini selalu ramai,” ujar Guntur.

Guntur juga menyampaikan rencana besar agar paguyuban Tiban Blitar Raya bisa mendapat pengakuan dan dukungan lebih luas dari pemerintah daerah.

“Dan insyaallah nanti kalau beliau Pak Bupati setuju maka paguyuban dan pelantikan seni tradisi Tiban Blitar Raya ini di pendopo Kabupaten Blitar,” ucapnya.

“Mudah-mudahan beliau berkenan,” sambung Guntur.

Lebih jauh, Guntur berharap terus ada penguatan organisasi agar nantinya bisa terbentuk struktur organisasi seni Tiban di tingkat nasional. Lantaran seni ini perkembangannya pesat seperti adanya lawatan antar provinsi tiap tahun.

“Kita pernah punya rencana bagaimana kalau seni tradisi Tiban ini kita bikin kepengurusan di tingkat nasional sehingga ada DPP seni tradisi Tiban tingkat nasional dan mudah-mudahan itu bisa terwujud,” ujarnya.

“Kita punya agenda tahunan saling lawatan, kunjungan lawatan Blitar ke Lampung dan Lampung ke Blitar. Lampung juga terus berkembang, tidak hanya Lampung Timur, tapi sudah merembet ke Lampung Tengah dan mudah-mudahan itu berkembang terus,” paparnya.

Untuk itu Guntur memastikan merealisasi aspirasi yang masuk dari paguyuban Seni Tiban seperti dalam kegiatan reses ini. Dengan harapan warisan seni asli nenek moyang bangsa Indonesia bisa terus terjaga dan diwarisi generasi muda jaman sekarang.

“Kami dari DPRD Jatim memfasilitasi melalui APBD Jawa Timur itu berupa panggung besar, panggung 3G, yaitu ukuran 8×8, kemudian gamelan, kemudian terop dan sound. Harapannya apa, kalau ada event-event besar kita sudah tidak bingung lagi sewa,” pungkasnya.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed