KafeBerita.com, Blitar – Ancaman vakumnya aktivitas Karang Taruna di Kabupaten Blitar menjadi perhatian serius anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Guntur Wahono. Dalam kegiatan reses yang digelar di Dusun Tambakboyo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Selasa (10/2/2026), Guntur mengumpulkan pengurus Karang Taruna dari berbagai wilayah untuk membahas langsung persoalan utama yang selama ini membelenggu gerakan kepemudaan tersebut, yakni minimnya dukungan anggaran.
Dalam forum itu, Guntur menegaskan bahwa secara struktur, Karang Taruna di Kabupaten Blitar sejatinya sudah terbentuk mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa. Namun, kelembagaan tersebut belum mampu bergerak optimal karena ketiadaan sokongan pendanaan APBD Kabupaten Blitar yang terkoreksi sekitar 300 miliar akibat kebijakan efisiensi pemerintah pusat.
“Ya jadi Karang Taruna Blitar ini kepengurusannya sudah terbentuk mulai dari tingkat kabupaten, kemudian Kecamatan hingga di Desa. tetapi di dalam berkegiatan mereka kesulitan-kesulitan terutama support anggaran ini tidak ada sama sekali,” kata Guntur.
Ia menilai, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Menurutnya, Karang Taruna memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak sosial dan pembangunan di tingkat akar rumput.
“Kita harapkan Karang taruna ini hidup, setelah ini berdiri ada ini harus beraction kepada masyarakat, manfaat karang taruna itu apa untuk masyarakat,” ujarnya.
Guntur menyampaikan, jika kesulitan yang dihadapi para pemuda tidak segera diurai, maka Karang Taruna akan terus berada dalam kondisi stagnan, bahkan berisiko mati suri.
“Nah ini kalau kita tidak urai kesulitan mereka maka mereka akan selamanya tetap kesulitan padahal begitu potensi yang sangat luar biasa yang bisa dikembangkan oleh teman-teman karang taruna,” katanya.
Karena itu, ia menyatakan komitmennya untuk membantu memfasilitasi kebutuhan dasar Karang Taruna, terutama dalam penguatan organisasi. Menurut Guntur, sebelum berbicara tentang program sosial dan pembangunan, organisasi Karang Taruna harus terlebih dahulu kuat dan solid.
“Nah sehingga kami berharap karang taruna ini akan kuat, solid dan kesulitannya apa kalau kami mampu kita fasilitasi. termasuk dalam rangka bimtek penguatan organisasi, organisasi harus kuat dulu bagaimana mereka bisa action, bisa bekerja, bisa berbuat sesuatu kalau organisasinya belum solid,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa penguatan tersebut akan diintegrasikan melalui berbagai kegiatan yang difasilitasi lewat perannya sebagai anggota DPRD Jawa Timur, baik melalui agenda reses, sosialisasi, seminar, hingga kegiatan temu karya.
“Jadi harus solid dulu, maka melalui kegiatan kami baik ini di kegiatan reses maupun sosialisasi seminar, muka karya dan saran kasihan sebagian kegiatan itu kita arahkan untuk bagaimana menghidupkan karang taruna yang ada di Blitar ini,” lanjutnya.
Lebih jauh, Guntur menegaskan bahwa Karang Taruna seharusnya berperan sebagai ujung tombak pembangunan di desa. Peran tersebut, menurutnya, hanya bisa berjalan apabila terdapat sinergi yang kuat antara Karang Taruna dan pemerintah.
“Ya karang taruna sebagai ujung tombak pembangunan di desa, harus mampu sinergi dengan pemerintah desa mampu menggerakkan potensi yang ada di desa. sehingga desa itu akan berdaya akan maju kemajuan Karang Taruna ini akan bisa membawa kesejahteraan daripada masyarakat yang ada di desa itu harapan kita,” ujar Guntur.

Dalam reses tersebut, Guntur juga menampung sejumlah aspirasi dari para pengurus Karang Taruna. Beberapa di antaranya adalah rencana pelaksanaan jambore Karang Taruna, penguatan berbagai potensi lokal, hingga agenda besar berupa Gebyar Karang Taruna Blitar yang direncanakan dalam waktu dekat.
Efisiensi Anggaran, Dinsos Akui Karang Taruna Terancam Vakum
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Blitar, Ulvia Shuffa yang ikut menjadi narasumber di reses Guntur Wahono saat itu, mengakui bahwa kondisi efisiensi anggaran membuat pihaknya tidak memiliki alokasi khusus untuk mendukung kegiatan Karang Taruna pada tahun ini. Ia menyebut, situasi tersebut membuat aktivitas Karang Taruna kembali terancam vakum.
“Alhamdulillah ini di tengah era efisiensi nggih, kami kebetulan tahun ini memang tidak ada anggaran untuk teman-teman (Karang Taruna) dan ini ada tawaran koordinasi dan kerjasama dari Pak Guntur ini angin segar buat kami semoga nanti tidak mati suri lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sebelumnya Karang Taruna sempat vakum cukup lama. Meski pengurus baru sudah dilantik tahun lalu, kebijakan efisiensi membuat aktivitas organisasi kembali terhambat.
“Karena sebelumnya sudah sempat vacuum lama, tahun kemarin itu dilantik pengurus baru tapi kena efisiensi ini terancam vakum lagi, tapi Alhamdulillah semoga nanti bisa dengan fasilitasi Pak Guntur bisa hidup kembali lebih-lebih aktif lagi sampai dengan tingkat desa,” sambungnya.
Ulvia berharap, keberadaan Karang Taruna dapat kembali dihidupkan secara merata hingga ke tingkat kecamatan dan desa. Ia menilai, pembinaan pemuda menjadi sangat penting untuk mencegah munculnya persoalan sosial di masyarakat.
“Harapannya Karang Taruna bisa hidup lagi dengan aktif di semua lini kabupaten, di kecamatan dan juga di desa sehingga nanti anak muda yang menjadi anggota Karang Taruna usia 16 sampai 30 itu bisa aktif percepatan yang positif tidak terjerumus terhadap yang negatif,” katanya.
Ia menegaskan bahwa usia pemuda merupakan fase yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh.
“Karena usia itu kan usia yang rawan untuk pemuda kita banyak godaan, penuh semangat, penuh rasa ingin tahu sehingga kalau tidak dibina nanti takutnya malah menambah permasalahan sosial di masyarakat,” pungkasnya.
Melalui fasilitasi yang direncanakan Guntur Wahono lewat dukungan APBD Provinsi Jawa Timur, Karang Taruna Blitar kini menaruh harapan baru untuk kembali bergerak aktif, menjadi ruang aktualisasi pemuda, sekaligus mitra strategis pembangunan desa di Kabupaten Blitar.












