KafeBerita.com, Blitar — Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, atau Mas Ibin, menegaskan arah baru kepemimpinannya: memadukan mobilitas tinggi sebagai kepala daerah dengan kemampuan memantau kondisi Kota Blitar kapan pun dan dari mana pun.
Dalam era pemerintahan modern, kata Mas Ibin, pemimpin tidak boleh terikat ruang. Bahkan saat sedang bertugas di Jakarta untuk melobi kementerian dan memperjuangkan program pembangunan tambahan bagi Kota Blitar, ia ingin tetap bisa mengomando penanganan persoalan warga secara real-time.
“Tata kelola pemerintahan kan berubah sangat cepat sekali, masyarakat seringkali bertanya, sering kali mengungkapkan ada kejadian-kejadian yang harus segera direspons,” ujarnya usai membuka Sarasehan Smart City di ISC Diskominfotik Kota Blitar, Rabu (19/11/2025).
Smart City untuk Pemimpin yang “Selalu Ada” Meski Jarak Jauh
Mas Ibin menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Seluruh OPD dan stakeholder, katanya, harus terkonsolidasi dalam satu sistem yang memungkinkan pengambilan keputusan cepat dan penanganan masalah tanpa menunggu kehadiran fisik pejabat di lokasi.
“Kita butuh teknologi untuk mengkonsolidasikan mengintegrasikan seluruh OPD… itu tidak bisa dilakukan kalau tidak memakai teknologi,” tegasnya.
Selama ini, Kota Blitar telah menggunakan berbagai aplikasi pelayanan publik dan rapat virtual. Namun, menurut Mas Ibin, era Smart City menuntut sesuatu yang lebih besar dan lebih terintegrasi. “Pelayanan pakai aplikasi yang cepat terukur itu sudah, cuma memang perlu lebih masif lagi… biar masyarakat gampang mengakses, merasa terbantu dan kita cepat ya dalam menangani persoalan,” jelasnya.
Visi Besar: Memantau Kota dari Jakarta
Point paling menarik dari pernyataan Mas Ibin adalah visinya tentang kemampuan seorang Wali Kota memantau kondisi kotanya secara real-time, bahkan dari luar daerah. Hal ini dianggapnya sebagai kunci kepemimpinan modern.
“Misalkan saya bertugas di luar daerah pun atau bertugas di Jakarta pun saya bisa mantau mana yang banjir, mana setiap lapangan… bahkan ketika ada masalah pun saya bisa mengkoordinasikan dari jauh langsung menuju lapangan,” ujarnya.
Ia menilai sistem ini akan mencegah miskomunikasi antara pimpinan dan petugas lapangan. “Kadang di bawah teman-teman ngomongnya apa, sementara kita pengennya apa. Tapi kalau misalnya connect langsung di lapangan itu alangkah lebih mudahnya,” sambungnya.
Lewat teknologi Smart City—mulai dari command center, dashboard layanan, hingga koneksi real-time—Mas Ibin ingin memastikan bahwa satu perintah bisa dieksekusi cepat, tepat, dan sesuai prioritas warga.
Pemimpin yang Bergerak, Kota Blitar Tetap Terurus
Dalam berbagai kesempatan, Mas Ibin kerap berada di luar daerah untuk mengembangkan jejaring, memasarkan potensi Kota Blitar, dan bertemu kementerian guna memperjuangkan tambahan anggaran pembangunan. Ia menyebut dirinya sebagai “sales” Kota Blitar yang bertugas mengenalkan produk unggulan daerah ke pemerintah pusat.
Namun, dengan Smart City, ia memastikan mobilitas itu tidak akan mengurangi kehadirannya dalam menyelesaikan masalah warga.
Smart City, menurutnya, adalah jawaban agar kepemimpinan tetap hadir meski sang pemimpin tidak sedang berada di Kota Blitar. Sebuah model leadership baru yang adaptif, responsif, dan sesuai perkembangan zaman.
Dengan transformasi digital ini, Pemkot Blitar menargetkan seluruh layanan dan sistem pengaduan terhubung secara penuh sehingga laporan banjir, pohon tumbang, hingga aduan warga paling kecil dapat ditangani secara cepat — kapan pun pimpinan diperlukan.
“Itu salah satu kemudahan keunggulan kalau kita mempunyai teknologi yang memadai untuk menggerakkan kebijakan pembangunan dengan smart city ini,” tutup Mas Ibin.
Melalui komitmen ini, Kota Blitar bergerak menuju tata kelola modern, di mana pemimpin tak lagi dibatasi jarak, dan pelayanan publik semakin sigap dalam merespons kebutuhan masyarakat.









