JOMBANG — Jombang dikenal luas sebagai Kota Santri. Identitas tersebut lahir dari sejarah panjang pesantren, ulama, kiai, tokoh agama, serta organisasi keagamaan yang tumbuh dan berkembang di daerah ini.
Jombang bahkan memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Banyak tokoh besar lahir, tumbuh, atau memiliki keterkaitan sejarah dengan daerah ini. Karena itu, karakter masyarakat Jombang seharusnya tetap dijaga dengan nilai kesantunan, komunikasi, musyawarah, dan penghormatan terhadap sesama.
Namun, sebagai daerah yang terbuka, Jombang tentu tidak bisa menutup diri dari kedatangan masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan dari luar daerah.
Yang perlu menjadi perhatian bukan keberadaan organisasi masyarakat dari luar Jombang, tetapi budaya atau gaya premanisme yang tidak sesuai dengan karakter masyarakat Jombang.
Siapa pun yang datang dan beraktivitas di Jombang tentu memiliki hak yang sama sebagai warga negara, sepanjang menjalankan aktivitas sesuai aturan hukum. Tetapi keterbukaan tersebut juga harus dibarengi dengan penghormatan terhadap kultur dan karakter masyarakat setempat.
Jangan sampai cara-cara intimidasi, tekanan, pengerahan massa, kekerasan verbal maupun fisik, atau tindakan yang mengedepankan kekuatan kelompok justru dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Jombang terbuka terhadap siapa pun, tetapi Jombang tidak boleh kehilangan jati dirinya.
Jombang Punya Sejarah Panjang Perjuangan dan Pemikiran
Identitas Jombang sebagai Kota Santri memang tidak terbantahkan. Banyak pondok pesantren besar berdiri di daerah ini dan melahirkan ulama serta tokoh nasional.
Namun, sejarah Jombang juga menunjukkan adanya keberagaman pemikiran.
Soekarno, Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia, memiliki hubungan sejarah yang kuat dengan Jombang melalui ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, yang berasal dari Ploso, Jombang. Soekarno sendiri lahir di Surabaya.
Di sisi lain, Semaun, salah satu tokoh penting dalam sejarah gerakan buruh dan gerakan kiri Indonesia, juga memiliki keterkaitan kelahiran dengan wilayah Sumobito, Jombang.
Artinya, Jombang memiliki sejarah pemikiran yang beragam.
Dari tanah dan lingkungan Jombang lahir berbagai semangat perjuangan yang kemudian ikut mewarnai perjalanan bangsa. Ada tradisi pesantren dan keagamaan, ada perjuangan kebangsaan, ada gerakan sosial, hingga pemikiran politik dengan berbagai corak.
Perbedaan tersebut justru menunjukkan bahwa masyarakat Jombang memiliki tradisi intelektual dan sejarah yang kaya.
Karena itu, tidak semestinya perbedaan hari ini diselesaikan dengan menunjukkan kekuatan fisik atau dominasi kelompok.
Jangan Bawa Budaya Premanisme ke Kota Santri
Sebagai pemuda Jombang, penulis mengimbau kepada seluruh pihak agar menjaga karakter daerah ini.
Organisasi masyarakat dari luar Jombang tidak perlu dipersoalkan hanya karena berasal dari luar daerah. Mereka tetap memiliki hak untuk beraktivitas selama sesuai dengan hukum dan menghormati masyarakat setempat.
Tetapi apabila terdapat kelompok atau individu yang membawa gaya premanisme, intimidasi, ancaman, tekanan, atau tindakan yang mengganggu ketertiban, maka hal tersebut patut dikritisi.
Sebab, persoalannya bukan berasal dari mana seseorang atau organisasi tersebut.
Persoalannya adalah perilaku.
Jangan sampai karena merasa memiliki kelompok besar, seseorang kemudian merasa lebih berkuasa daripada masyarakat lainnya.
Jangan sampai perbedaan kepentingan membuat komunikasi berubah menjadi tekanan.
Dan jangan sampai Jombang yang selama ini dikenal sebagai Kota Santri justru dikenal karena konflik serta gaya-gaya premanisme.
Pemuda Jombang Mengajak Semua Pihak Mengedepankan Komunikasi
Penulis (Baret Mega Lanang) sebagai pemuda Jombang mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemuda untuk kembali kepada tradisi komunikasi dan musyawarah.
Kalau ada persoalan, mari duduk bersama.
Kalau ada perbedaan, mari berdiskusi.
Kalau ada kritik, jawab dengan argumentasi dan data.
Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, tempuh jalur hukum.
Tidak perlu menggunakan tekanan ataupun menunjukkan kekuatan kelompok.
Sebab masyarakat Jombang memiliki sejarah yang panjang dalam membangun bangsa. Semangat para tokoh terdahulu seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dengan cara yang beradab.
Jombang tidak menolak siapa pun. Jombang hanya ingin dihormati.
Siapa pun yang datang ke Jombang, dari mana pun asalnya, tentu dipersilakan untuk hidup, bekerja, berorganisasi, dan berkontribusi bagi masyarakat sepanjang mengikuti aturan.
Tetapi satu hal harus dipahami bersama:
Jangan membawa budaya premanisme ke Kota Santri.
Jombang memiliki karakter sendiri. Ada pesantren, ada ulama, ada tradisi musyawarah, ada budaya gotong royong, dan ada sejarah panjang perjuangan.
Karakter tersebut harus dijaga bersama.
Berbeda boleh. Berorganisasi boleh. Mengkritik boleh. Memperjuangkan kepentingan juga boleh. Tetapi intimidasi, ancaman, kekerasan dan gaya premanisme tidak boleh menjadi budaya baru di Jombang.
Jombang harus tetap menjadi rumah bersama—terbuka terhadap siapa pun, tetapi tetap teguh menjaga martabatnya sebagai Kota Santri. (*) (BRT).














