KafeBerita.com, Blitar — Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar mempertegas branding Kota Pancasila melalui penyelenggaraan tiga agenda besar yang dipadukan dalam satu panggung kebudayaan: Literasi Seni dan Budaya, Opera Cinewayang, dan Kampung Pancasila Fest 2025. Acara puncak digelar di Amphiteater Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Kamis malam (20/11/2025), dan berlangsung meriah meski Bumi Bung Karno saat itu diguyur hujan rintik.
Festival ini menjadi bukti bahwa Pemkot Blitar tidak sekadar merayakan seni dan tradisi, tetapi menjadikannya instrumen penguatan ideologi kebangsaan. Lewat kombinasi seni pertunjukan, literasi, dan pendidikan karakter, pemerintah kota memperkuat identitas Blitar sebagai ruang peradaban yang berakar pada nilai Pancasila.
Suasana amphiteater hidup oleh sorotan lampu teater, lengking gamelan, hingga paduan vokal band pelajar. Bahkan sebelum acara dimulai, Kepala Bakesbangpol Kota Blitar, Toto Robandiyo, telah menegaskan bahwa festival ini memadukan tiga misi besar: memperkuat literasi budaya, memperingati Hari Wayang Dunia, dan menuntaskan rangkaian Kampung Pancasila Fest ke-2.
Acara dibuka dengan tari Kidung Subadra oleh seniman Sragen, diikuti penampilan finalis Festival Band Pancasila dari SMA/SMK Negeri Kota Blitar. Para pelajar tampil membawakan lagu-lagu bertema nasionalisme seperti “Pancasila Rumah Kita” dan “Blitar Kawentar”.
Menurut Toto, langkah ini penting untuk menghidupkan kembali narasi ideologi melalui medium yang dekat dengan generasi muda. “Lagu-lagu nasionalis kami wajibkan karena kami ingin generasi pelajar sejak dini dikenalkan dan menggali nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Puncak malam itu ditandai dengan pementasan Opera Cinewayang lakon Punokawan Kembar, kolaborasi Disbudpar, Perpustakaan Bung Karno, dan Pasamoan Dalang Muda Blitar Raya. Dalang muda menggabungkan multimedia dan pakeliran tradisional, menjadikan wayang tetap relevan di tengah arus digital.
Suskandiati, Sekretaris Bakesbangpol, mengingatkan status wayang sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO. “Wayang adalah tontonan, tuntunan, dan tatanan. Tiga nilai itu telah menyatu dalam kehidupan masyarakat,” ucapnya.
Pemkot Blitar menempatkan pementasan ini sebagai simbol berkepribadian dalam kebudayaan, salah satu ajaran Tri Sakti Bung Karno yang menjadi fondasi arah pembangunan kota.

Penguatan Kampung Pancasila di 22 Kelurahan, Gerakan Ideologi Didukung Wali Kota
Puncak festival juga menjadi momentum pengukuhan tiga Kampung Pancasila baru—Pakunden, Klampok, dan Bendo—sehingga total ada 12 kampung Pancasila dari 22 kelurahan.
Toto menekankan bahwa langkah ini bukan seremoni semata, tetapi strategi konkret menjaga konsistensi nilai Pancasila di tingkat akar rumput. “Kampung Pancasila adalah sarana bersama untuk menggali dan merevitalisasi nilai-nilai Pancasila sesuai karakter tiap wilayah,” ujarnya.
Pemkot Blitar menargetkan seluruh kelurahan resmi menjadi kampung Pancasila pada 2029, sejalan dengan visi kota aman, religius, dan nasionalis.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin, tidak dapat hadir secara langsung karena tengah bertugas di Yogyakarta. Namun, ia menyampaikan arahan secara virtual dan mengapresiasi tiga agenda besar yang dipadukan dalam satu perayaan budaya.
Mas Ibin menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan wujud implementasi dua misi utama Pemkot Blitar. Misi pertama menjadikan Blitar sebagai Kota Pancasila yang aman, religius, dan nasionalis. Dan misi kedua menguatkan sektor perdagangan, jasa, pariwisata, dan industri berbasis identitas budaya.
Dalam pesannya, Mas Ibin menegaskan bahwa nilai Pancasila harus hadir dalam kehidupan sehari-hari warga. “Kampung Pancasila merupakan bentuk nyata dari tujuan dan sasaran misi tersebut,” ujarnya.
Ia juga mengajak warga melestarikan wayang sebagai warisan adiluhung bangsa. “Pemerintah Kota Blitar mengajak semua pihak melestarikan wayang sebagai warisan luhur bangsa Indonesia,” ucapnya.
Mas Ibin menutup sambutannya dengan harapan agar perwayangan dan kebudayaan Blitar semakin dikenal luas. “Selamat Hari Wayang Dunia ke sebelas. Semoga wayang semakin terkenal sebagaimana Kota Blitar kawentar,” katanya.
Malam puncak festival ditutup dengan penyerahan penghargaan para pemenang festival band, finalis cerdas cermat, dan pengukuhan Kampung Pancasila. Panggung amphiteater berubah menjadi ruang publik yang menghidupkan kembali akar budaya, ideologi, dan kebanggaan lokal.
Pemkot Blitar melalui acara ini menegaskan pesan penting, bahwa identitas Kota Pancasila harus dijaga bukan lewat pidato, tetapi melalui pengalaman budaya yang hidup, melibatkan generasi muda, dan menghubungkan seni dengan nilai kebangsaan.
Di momen Hari Wayang Sedunia ini Kota Blitar semakin menegaskan diri sebagai rumah ideologi dan kebudayaan yang berpijak pada akar sejarah bangsa, sekaligus melangkah menuju masa depan yang lebih kokoh dan berkarakter.









