KafeBerita.com, Blitar — Di tengah tekanan fiskal nasional yang memotong signifikan alokasi anggaran daerah, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin memilih berdiri dengan sikap optimis. Dalam Sosialisasi RPJMD Kota Blitar 2025–2029 yang digelar di Aula PGSD Kota Blitar, Rabu (19/11/2025), ia menegaskan bahwa arah pembangunan lima tahun ke depan tetap akan dijalankan meski tantangan meningkat.
“Tantangan RPJMD kita ini lumayan berat, tapi saya di tahun pertama RPJMD ini tetap kita akan optimis ya dengan tata kelola baru merubah struktur APBD yang ada untuk memenuhi RPJMD,” ujar Mas Ibin membuka penjelasannya.
Menurutnya, RPJMD yang memuat rencana pembangunan jangka menengah daerah selama lima tahun, memang disusun dengan target ambisius. Namun kondisi tahun 2026 memaksa pemerintah kota menyesuaikan strategi, terutama karena pemotongan anggaran dari pemerintah pusat cukup besar.
“Memang kita mempunyai asumsi-asumsi atau mempunyai keinginan yang sangat besar, yang sangat banyak tentang pembangunan Kota Blitar. Tapi memang di 2026 ini tantangannya besar karena pemotongan anggaran dari pusat yang begitu besar,” ungkapnya.
RPJMD Direkonstruksi, Tapi Spirit Pembangunan Tetap Jalan
Mas Ibin menekankan bahwa pemerintah perlu merevisi kembali langkah-langkah RPJMD agar tetap relevan dalam kondisi anggaran terbatas. Meski ada kemungkinan beberapa program tidak bisa berjalan seperti tahun sebelumnya, ia memastikan bahwa efisiensi akan dilakukan secara menyeluruh tanpa menghilangkan arah pembangunan.
“Maka dari itu kita harus merekonstruksi ulang RPJMD kita, atau apa namanya sasaran ataupun tujuan-tujuan pembangunan kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah akan mengkomunikasikan seluruh perubahan kepada warga, terutama karena APBD 2026 akan mengalami beberapa penyesuaian — dari pengurangan program, pengalihan kegiatan, hingga pembiayaan yang tidak lagi penuh seperti tahun 2025.
“Sehingga masyarakat nanti tidak kaget ya ketika terjadi pola model antara 2025 menjadi 2026 karena akibat daripada penyesuaian anggaran,” jelasnya.
Namun di balik tekanan tersebut, Mas Ibin tetap memandang masa depan Kota Blitar dengan penuh harapan. Beberapa program nasional yang masuk ke Kota Blitar justru membantu memperkuat kapasitas pembangunan daerah.
“Yang utama adalah makan siang bergizi sudah di angka 60% ya yang Kota Blitar, jadi hampir 60% sasaran itu di Kota Blitar sudah mendapatkan makan siang bergizi,” terangnya.
Selain itu, pembangunan Koperasi Merah Putih di seluruh kelurahan dan rencana pendirian Sekolah Rakyat — sekolah berstandar internasional yang diperuntukkan bagi warga miskin — menjadi bukti adanya dukungan program stimulan dari pusat.
“Dan kita juga persiapan akan membangun sekolah rakyat ya, sekolah internasional yang nanti diperuntukkan oleh warga miskin,” ujarnya.
Menurut Mas Ibin, dukungan program pusat ini menjadi penopang penting agar ekonomi Kota Blitar tetap tumbuh meski APBD harus berhemat besar.
“Saya kira insya Allah ekonomi tetap baik-baik saja dan terus meningkat dan bertumbuh untuk Kota Blitar,” katanya penuh keyakinan.
Bapperida: RPJMD Adalah Hasil Bersama dan Harus Didukung Warga
Kepala Bapperida Kota Blitar, Tri Iman Prasetyo, yang juga memberikan keterangan dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa RPJMD bukan hanya dokumen pemerintah, tetapi hasil kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat sejak awal penyusunannya.
“Mensosialisasikan RPJMD… ini adalah pertanggungjawaban pemerintah kota, karena pada waktu penyusunan kami mengajak masyarakat mulai dari perencanaan teknokratiknya, konsultasi publik, sampai musrenbangnya,” jelas Tri Iman.
Ia menekankan bahwa ketika RPJMD sudah ditetapkan dalam bentuk Perda, maka visi dan misi di dalamnya otomatis menjadi visi misi daerah yang harus dijalankan oleh seluruh jajaran.
“Kalau dulu visi misi calon kepala daerah atau walikota, dengan sekarang ini sudah ditetapkan dengan perdanya, maka menjadi visi misi daerah yang harus dilakukan oleh Walikota dan seluruh jajaran,” tegasnya.
Di tengah tekanan fiskal, Kota Blitar menapaki lima tahun ke depan dengan kehati-hatian namun penuh optimisme. Mas Ibin memastikan bahwa keterbatasan tidak akan menghentikan langkah pembangunan — justru menjadi momentum untuk menata ulang strategi agar lebih tepat sasaran, lebih efisien, dan tetap mengutamakan kebutuhan masyarakat.












