KafeBerita.com, Blitar – Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau yang akrab disapa Mas Ibin meresmikan kafe literasi di Perpustakaan Kota Blitar, Rabu (1/4/2026). Peresmian ini bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-120 Kota Blitar dan menjadi simbol transformasi layanan publik menuju konsep kota masa depan.
Kafe literasi yang berlokasi di Perpustakaan Kota Blitar, Jalan Sumatera Nomor 54, ini mengusung konsep penggabungan antara ruang baca dan kafe santai. Inovasi ini dihadirkan untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa perpustakaan bukan lagi tempat yang kaku dan membosankan, melainkan ruang yang hidup, nyaman, dan menarik untuk dikunjungi.
Mas Ibin menyampaikan bahwa kafe literasi sebenarnya telah berjalan dalam tahap uji coba selama lebih dari satu bulan sebelum diresmikan. Hasilnya, antusiasme masyarakat cukup tinggi.
“Alhamdulillah kafe literasi ini sudah berjalan sebelum bulan puasa, sekitar satu bulan lebih. Dan menurut informasi sangat ramai sekali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gagasan menghadirkan kafe di lingkungan perpustakaan muncul dari kebutuhan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Selama ini, banyak perpustakaan sepi pengunjung karena dianggap kurang menarik.
“Membaca buku di perpustakaan itu seringkali menjenuhkan dan kurang diminati. Maka dari itu tumbuh ide bagaimana perpustakaan harus dikoneksikan dengan aktivitas lain yang santai,” katanya.
Menurutnya, tren kafe yang digemari masyarakat menjadi peluang untuk menarik minat kunjungan. Dengan menggabungkan konsep tersebut, masyarakat bisa menikmati suasana santai sambil tetap berinteraksi dengan buku dan pengetahuan.
“Yang paling tren hari ini adalah kafe. Kebetulan ada ruang kosong yang bisa dimodifikasi, sehingga muncul ide perpustakaan dikoneksikan dengan kafe,” jelasnya.

Mas Ibin menegaskan, inovasi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Blitar untuk menghadirkan layanan publik yang lebih dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Ini salah satu bentuk bahwa pemerintah kota Blitar hari ini lebih dinamis dan inovatif dalam berbagai hal,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong agar konsep serupa dapat diterapkan di berbagai fasilitas publik lainnya. Menurutnya, ke depan layanan pemerintah harus mampu menghadirkan kenyamanan sekaligus pengalaman yang menyenangkan bagi masyarakat.
“Fasilitas publik ke depan harus dikoneksikan dengan hal-hal yang menyenangkan. Jadi orang datang bukan karena terpaksa, tapi karena nyaman,” katanya.
Dalam suasana santai, Mas Ibin juga menyisipkan guyonan terkait konsep kafe literasi yang diharapkan mampu menarik generasi muda untuk datang ke perpustakaan.
“Kalau yang muda-muda ya pura-pura ke perpustakaan, pura-pura jadi intelektual bawa buku, padahal sambil ngopi saja. Tapi tidak apa-apa, yang penting datang dan minat baca tumbuh,” ujarnya sambil tersenyum.
Lebih jauh, ia menilai keberadaan kafe literasi dapat menjadi ruang diskusi, kajian, hingga aktivitas akademik seperti pengerjaan skripsi dan penelitian.
“Ini bisa jadi ruang diskusi, ruang kajian, bahkan tempat teman-teman kampus mengerjakan tugas. Suasananya nyaman,” jelasnya.
Mas Ibin juga membuka kemungkinan pengembangan konsep tersebut, termasuk penambahan area outdoor agar lebih inklusif dan menjangkau lebih banyak pengunjung.
Menurutnya, kafe literasi Kota Blitar ini berpotensi menjadi model baru bagi pengelolaan perpustakaan di Indonesia, jika mampu meningkatkan kunjungan dan minat baca secara signifikan.
“Kalau ini berhasil, bisa jadi role model. Mungkin ini salah satu yang pertama, nanti bisa ditanyakan ke Perpustakaan Nasional,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Mas Ibin menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar fasilitas, tetapi bagian dari strategi besar membangun sumber daya manusia sebagai fondasi kota masa depan.
“Dari ruang-ruang seperti ini akan lahir ide dan gagasan cemerlang. Harapannya, ini menjadi penopang utama menuju Kota Blitar yang maju dan sejahtera,” pungkasnya.







