Pemkot Blitar Gunakan Kaleng Bekas Pindahkan Burung Blekok, Tanpa Biaya dan Tanpa Menyakiti

KafeBerita.com, Blitar – Pemerintah Kota Blitar memilih cara sederhana dan tanpa biaya untuk menata keberadaan burung blekok di kawasan Alun-Alun. Dengan memanfaatkan kaleng bekas sebagai sumber bunyi, burung diarahkan berpindah secara alami tanpa harus disakiti.

Metode ini mulai diterapkan di sejumlah titik dengan memasang kaleng atau alat bunyi sederhana. Suara yang dihasilkan cukup untuk membuat burung merasa tidak nyaman dan perlahan berpindah ke lokasi lain yang lebih tenang.

Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin yang akrab disapa Mas Ibin menegaskan, langkah tersebut bukan untuk mengusir, melainkan mengarahkan burung agar menempati habitat yang lebih sesuai.

“Kita bukan mengusir, tapi memindahkan secara alami ke tempat yang lebih cocok,” ujar Mas Ibin saat meninjau alat kluntung dari kaleng bekas atau komplong di Alun-Alun usai kegiatan CFD, Minggu (19/4/2026).

Menurutnya, penggunaan kaleng bekas menjadi solusi praktis karena tidak membutuhkan anggaran. Selain itu, cara ini dinilai efektif dan tetap menjaga kelestarian satwa.

“Alatnya sederhana, pakai bunyi-bunyian. Prinsipnya persuasi, tanpa menyakiti,” katanya.

Selama ini, keberadaan burung blekok dalam jumlah besar di pohon-pohon sekitar alun-alun menimbulkan persoalan kebersihan. Kotoran burung kerap jatuh di jalur pedestrian, tempat duduk, hingga kendaraan yang parkir di sekitar lokasi.

Mas Ibin menyebut kondisi tersebut membuat kenyamanan ruang publik terganggu, padahal alun-alun merupakan fasilitas utama warga untuk beraktivitas.

“Alun-alun ini untuk masyarakat. Tapi kalau terus kotor, tentu mengganggu aktivitas warga,” ujarnya.

Mas Ibin bersihkan blekok sisi utara alun alun minggu 19 April 2026
Tampak Alun Alun Kota Blitar sisi utara yang kumuh dipenuhi kotoran burung blekok yang membuat wisatawan luar enggan singgah di Jantung Kota Blitar.

Karena itu, pemerintah memilih pendekatan yang tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan habitat satwa. Burung tidak dihilangkan, tetapi diarahkan ke kawasan yang lebih alami.

Pemkot Blitar menyiapkan sejumlah lokasi alternatif seperti kawasan Ecopark Joko Pangon dan area pinggiran kota yang memiliki banyak pepohonan rindang. Lingkungan tersebut dinilai lebih sesuai bagi burung blekok dibanding pusat keramaian.

“Di luar masih banyak pohon dan ruang yang lebih nyaman untuk burung,” jelasnya.

Upaya ini mulai menunjukkan hasil. Beberapa titik yang sebelumnya dipenuhi burung kini terlihat lebih bersih dan tidak lagi padat.

Selain pemasangan bunyi-bunyian, meningkatnya aktivitas warga seperti Car Free Day juga ikut mendorong burung berpindah ke area yang lebih tenang.

Pemkot Blitar memastikan penataan ini akan terus dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang sama, yakni sederhana, efektif, dan ramah lingkungan.

Melalui langkah tersebut, pemerintah ingin menghadirkan ruang publik yang bersih dan nyaman tanpa mengabaikan keberadaan satwa. Pendekatan ini sekaligus menjadi contoh bahwa penataan kota dapat dilakukan dengan cara bijak, bahkan dengan solusi nol rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *