KafeBerita.com, Blitar – Penghasilan para pesinden tidak selalu stabil. Ketika banyak tanggapan atau undangan pentas, mereka bisa kewalahan memenuhi permintaan. Namun, saat memasuki bulan-bulan sepi pekerjaan, sumber pemasukan ikut berkurang. Kondisi tersebut menjadi perhatian Anggota DPRD Jawa Timur Guntur Wahono yang mendorong Persatuan Sinden Blitar Raya (Persitar) membentuk koperasi sebagai wadah ekonomi bersama.
Gagasan itu disampaikan Guntur saat menutup rangkaian Sosialisasi Dewan (Sowan) 2026 bersama Persitar di Blitar, Minggu (1/11/2026). Kegiatan bertema pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk menciptakan organisasi efektif, efisien, dan berkelanjutan tersebut berlangsung meriah. Bahkan, pada akhir acara Guntur turut menyanyi bersama para pesinden membawakan lagu Blitar Kawentar.
Guntur mengatakan, pendekatan terhadap komunitas seni perlu disesuaikan dengan karakter anggotanya. Selain memberikan materi organisasi melalui narasumber, ia juga memberikan ruang kebersamaan agar para pesinden dapat menikmati kegiatan tersebut.
Menurutnya, para pelaku seni tidak hanya membutuhkan pembekalan, tetapi juga perhatian dan pendampingan terhadap kebutuhan mereka. Salah satu persoalan yang disampaikan adalah ketidakpastian pekerjaan yang bergantung pada undangan pentas atau tanggapan.
“Pada saat job itu lagi ramai, mereka kewalahan menerima job. Tetapi pada saat bulan-bulan tertentu tidak ada job, mereka kebingungan, karena sumber pemasukan dari kegiatan mereka pentas, tanggapan di mana-mana,” kata Guntur yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar.

UMKM DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Endik Susilo.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Guntur menyarankan Persitar membentuk koperasi yang dimiliki dan dikelola bersama oleh para pesinden. Koperasi itu diharapkan menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan anggota, terutama ketika sedang tidak mendapatkan pekerjaan pentas.
“Salah satu upaya adalah kita menyarankan kepada paguyuban ini untuk membuat satu koperasi. Koperasi ini dibentuk bersama-sama, dikelola bersama-sama, dan ini juga diperuntukkan untuk mereka semua,” ujarnya.
Guntur menyebut Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah Jawa Timur Slamet Sutanto siap membantu memandu dan memfasilitasi proses pembentukan koperasi tersebut. Jika pengelolaannya berjalan baik, model ini juga berpeluang dikembangkan di daerah lain.
Sementara, Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah Jawa Timur Slamet Sutanto menjelaskan koperasi dapat menjadi sarana untuk menyelesaikan persoalan ekonomi anggota melalui semangat gotong royong. Menurutnya, koperasi tidak hanya berkaitan dengan simpan pinjam, tetapi juga dapat menjalankan kegiatan jasa, pemasaran, produksi, hingga konsumsi.
“Koperasi itu menyelesaikan persoalan yang sama dengan semangat gotong royong. Sehingga koperasi identik bukan hanya simpan pinjam, jadi bisa jasa, bisa pemasaran, bisa produksi, bisa konsumen. Dari kegiatan yang dilakukan hari ini contohnya Persitar ini yang paling tepat adalah jasa,” jelas Slamet.
Ia berharap kekuatan anggota dapat dihimpun untuk saling membantu ketika ada pesinden yang menghadapi kesulitan. Slamet juga mengapresiasi langkah Guntur yang dinilainya merespons kebutuhan masyarakat melalui kegiatan Sowan dan melibatkan berbagai komunitas.

Selain penguatan ekonomi, Guntur juga memperhatikan peningkatan kapasitas seni para pesinden. Ia menyampaikan bahwa melalui APBD Provinsi Jawa Timur, pihaknya telah beberapa kali memfasilitasi kebutuhan atribut berupa kebaya dan jarit untuk 60 pesinden. Ke depan, ia ingin membantu pengadaan seperangkat gamelan agar anggota Persitar memiliki fasilitas untuk berlatih.
Menurut Guntur, peningkatan kemampuan menjadi kebutuhan penting karena persaingan di dunia seni pertunjukan semakin ketat. Para pesinden juga perlu menguasai tari klasik seperti Gambyong dan Emprak untuk memenuhi kebutuhan penonton ketika tampil dalam kegiatan wayang maupun pertunjukan lainnya.
Guntur turut menyampaikan kebanggaannya karena minat generasi muda terhadap dunia pesindenan mulai tumbuh. Ia menyebut ketertarikan tersebut tidak hanya datang dari kalangan SMP, tetapi juga anak-anak usia SD. Regenerasi ini dinilai penting agar seni pesindenan tetap memiliki penerus.
Pegiat seni yang juga bagian dari Persitar, Sudarwiyanto, menyebut organisasinya berdiri sejak 2016 dan kini menaungi sekitar 200 pesinden dari Kabupaten dan Kota Blitar. Ia menyambut positif perhatian Guntur terhadap pelaku budaya dan berharap kualitas kesenian para anggota terus berkembang.
“Harapan kami, para sinden tidak hanya puas menembus pasar populer seperti campursari, tetapi juga terus memperdalam teknik dan kualitas sindenan klasik,” ungkap Sudarwiyanto.
Guntur juga meminta Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mengidentifikasi potensi masyarakat yang bergerak di bidang seni budaya agar pembinaan dapat dilakukan lebih terarah.
Melalui gagasan koperasi, dukungan fasilitas, dan peningkatan keterampilan, Anggota DPRD Jatim Guntur Wahono berharap Persitar semakin kuat dalam menaungi anggotanya. Penutupan Sowan 2026 bersama para pesinden tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mendorong komunitas seni tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi dan meningkatkan kualitas pertunjukan.








