KafeBerita.com, Blitar – Di saat aksi sejumlah insan olahraga berlangsung di depan Kantor Pemerintah Kota Blitar, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin ternyata tengah menjalankan agenda pemerintahan di sejumlah titik pembangunan dan rumah warga. Sejak pagi, Mas Ibin bersama jajaran Pemkot Blitar turun langsung meninjau program Karya Mas hingga bantuan perbaikan rumah tidak layak huni.
Agenda tersebut berlangsung pada hari yang sama dengan aksi massa yang menyampaikan tuntutan terkait anggaran pembinaan olahraga dan penggunaan kantor operasional KONI. Sejumlah pihak menyebut Wali Kota tidak muncul bahkan kabur saat aksi berlangsung, padahal faktanya Mas Ibin ada lapangan meninjau pekerjaan pemerintahan di tengah masyarakat.
Peninjauan dimulai dari program Karya Mas di Kelurahan Tanggung dan Ngadirejo, kemudian berlanjut ke Bendogerit. Program pembangunan berbasis masyarakat itu menempatkan warga sebagai pihak yang terlibat langsung sejak menentukan kebutuhan, merencanakan pekerjaan, melaksanakan pembangunan hingga menyusun pertanggungjawaban dengan pendampingan pemerintah.
“Program ini direncanakan oleh masyarakat, diinginkan, direncanakan, dilaksanakan, maupun dilaporkan sendiri oleh masyarakat, didampingi oleh Pemerintah Kota Blitar dan pendamping,” kata Mas Ibin.
Menurut Mas Ibin, pola tersebut membuat pembangunan lebih dekat dengan kebutuhan lingkungan karena program ditentukan berdasarkan persoalan yang benar-benar dirasakan warga. Skala program juga cukup besar, dengan pembangunan infrastruktur yang menjangkau sekitar 300 titik.
Tidak berhenti pada peninjauan, Mas Ibin bahkan ikut mencoba pekerjaan di salah satu lokasi. Ia menilai keterlibatan warga sekitar dalam pelaksanaan proyek memberi manfaat ganda karena pembangunan infrastruktur sekaligus menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Program ini sangat masif, melibatkan masyarakat langsung dan berdampak langsung kepada pembangunan di suatu kelurahan untuk masyarakat. Tadi kami juga ikut merasakan menjadi tukang,” ujarnya.
Program tersebut diperkirakan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi pekerjaan.
“Tujuannya betul-betul untuk kebutuhan masyarakat yang paling mendasar. Infrastruktur sekitar 300-an titik dan perkiraan menyerap tenaga kerja sekitar 3.000 tenaga kerja,” kata Mas Ibin.

Dari Karya Mas ke Rumah Warga
Sekitar pukul 11.30 WIB, agenda Mas Ibin berlanjut dengan meninjau penerima bantuan rumah tidak layak huni. Dua lokasi yang dikunjungi berada di Jalan Kopi dan Jalan Sonokeling, Kelurahan Rembang.
Pemkot Blitar saat ini mendorong percepatan penanganan hunian tidak layak melalui kolaborasi pendanaan dari pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan pemerintah pusat.
Program Seruni Kota Blitar menyasar 85 penerima, terdiri atas enam pembangunan rumah baru dan 79 peningkatan kualitas rumah. Sementara Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan bantuan kepada tujuh penerima rumah tidak layak huni serta 87 penerima bantuan jaringan dan instalasi listrik.
Dari pemerintah pusat, Kota Blitar memperoleh kuota 300 penerima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Bahkan masih terdapat potensi tambahan 444 penerima yang dapat diusulkan melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Mas Ibin ingin peluang tersebut dikawal agar semakin banyak warga dengan kondisi hunian tidak layak memperoleh intervensi pemerintah.
“Kami menginginkan targetnya tahun ini di atas 1.000. Kita masih dapat approval sekitar 300-an. Ini terus berlanjut karena masih disurvei oleh pemerintah pusat,” ujarnya.
Menurut Mas Ibin, pengecekan lapangan diperlukan untuk memastikan berbagai hambatan teknis dapat segera diketahui. Dengan begitu, proses bantuan tidak berhenti pada tahapan administrasi.
“Kurang-kurangnya apa kita harus segera push supaya bisa maksimal untuk terserap bagi warga kurang mampu yang rumahnya kurang layak di Kota Blitar,” katanya.
Mas Ibin menegaskan upaya memperbaiki hunian masyarakat tidak berhenti pada 2026. Program serupa akan terus diperluas pada tahun-tahun berikutnya untuk mempercepat penyediaan rumah yang lebih aman dan layak bagi masyarakat.
Mas Ibin Tetap Bekerja di Tengah Aksi
Saat agenda lapangan tersebut berlangsung, aksi insan olahraga digelar di lingkungan Kantor Pemkot Blitar. Massa yang mengatasnamakan insan olahraga menyuarakan tuntutan pencairan anggaran hibah pembinaan olahraga dan aset Pemkot untuk dijadikan kantor KONI segera dilakukan.
Mas Ibin yang mengetahui adanya aksi tersebut memilih tidak memberikan komentar panjang ketika wartawan meminta tanggapannya.
“Ah, no comment. Enggak ngerti saya,” katanya singkat.
Pernyataan itu disampaikan ketika agenda peninjauan lapangan Mas Ibin masih berlangsung. Karena itu, ketidakhadirannya di lokasi demonstrasi bukan berarti ia sedang menghilang dari aktivitas pemerintahan.
Hari itu, Mas Ibin justru berada di tengah masyarakat, mengecek pembangunan berbasis warga, melihat langsung penyerapan tenaga kerja, hingga memastikan program perbaikan rumah tidak layak terus bergerak. Sedang demo yang terjadi di kantornya didalangi wakil wali kotanya sendiri Elim Tyu Samba, sehingga keputusannya untuk enggan menanggapi karena dia ingin fokus kerja.
Dari sekitar 300 titik Karya Mas yang dikawal hingga target perbaikan hunian di atas 1.000 rumah, agenda Mas Ibin pada hari tersebut menunjukkan fokusnya tetap pada pelaksanaan program dan pelayanan yang dapat dirasakan langsung masyarakat.












