KafeBerita.com, Blitar – Pemerintah Kota Blitar tidak hanya membuka Makam Bung Karno (MBK) selama 24 jam. Pemkot kini menghidupkan kegiatan rutin yang mempertemukan doa, sejarah, dan pemikiran Sang Proklamator.
Setelah ziarah rutin setiap malam Jumat, Pemkot Blitar kini menghidupkan rutinan Minggu Kliwon. Ratusan jamaah mengikuti Ziarah Akbar Rutinan Malam Ahad Kliwon di kawasan MBK, Sabtu (19/9/2026) malam.
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin hadir bersama Romy Soekarno, anggota Komisi II DPR RI sekaligus cucu Bung Karno, para kiai, tokoh masyarakat, dan jamaah.
Mas Ibin mengatakan Minggu Kliwon memiliki makna khusus karena berkelindan dengan wafatnya Bung Karno. Menurutnya, momentum tersebut harus dirawat bukan sekadar sebagai ritual mengenang, tetapi juga ruang untuk membaca kembali gagasan dan perjuangan Bung Karno.
“Kenapa Minggu Kliwon ini spesial? Karena Minggu Kliwon inilah beliau meninggalkan kita semua. Walaupun beliau tiada, tapi serasa beliau masih ada karena beliau meninggalkan banyak konsep, banyak sejarah, banyak hal terkait berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Mas Ibin.
Ia menilai generasi penerus memiliki tanggung jawab menjaga semangat perjuangan tersebut. Penghormatan kepada Bung Karno, kata dia, tidak berhenti pada ziarah dan doa.
“Makanya kita sebagai generasi penerus harus tetap semangat sebagaimana beliau dulu. Semangat dalam mendirikan bangsa ini, semangat dalam memperjuangkan rakyat Indonesia, semangat dalam segala hal untuk bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Mas Ibin.
Mas Ibin menyebut kini terdapat dua kegiatan rutin di MBK. Ziarah malam Jumat telah diikuti sekitar dua ratus jamaah. Sementara rutinan Minggu Kliwon digelar setiap selapan atau 35 hari.
“Rutinitasnya sekarang sudah ada dua. Setiap malam Jumat, alhamdulillah diikuti oleh dua ratusan. Selain Yasin dan tahlil, tentunya selapanan atau setiap Minggu Kliwon juga kita adakan rutinan,” ujarnya.
Rutinan tersebut dihimpun dalam Majelis Pecinta Bung Karno. Mas Ibin berharap kegiatan itu berkembang dengan menghadirkan tokoh nasional untuk membicarakan sejarah, pemikiran, dan pesan Bung Karno.
Penguatan kegiatan tersebut berjalan bersamaan dengan meningkatnya kunjungan ke MBK. Data Pemkot Blitar mencatat 21.031 kunjungan selama Agustus 2026. Jumlah itu terdiri atas 18.502 kunjungan siang dan 2.529 kunjungan malam.
Angka tersebut meningkat sekitar 157 persen dibandingkan Agustus 2025 yang mencatat 8.191 kunjungan.
Pada 1–15 September 2026, kunjungan juga mencapai 11.701 orang. Jumlah itu naik sekitar 18 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 9.936 orang. Dari jumlah tersebut, 9.206 merupakan kunjungan siang dan 2.495 kunjungan malam.
Di hadapan jamaah, Romy Soekarno menekankan bahwa ziarah ke makam Bung Karno tidak cukup hanya mengenang sosok Sang Proklamator.
“Kita datang ke Makam Bung Karno bukan sekadar untuk mengenang Bung Karno. Kita datang untuk merenungkan apa yang harus kita teruskan dari perjuangannya. Karena Bung Karno pernah mengingatkan: warisi apinya, jangan abunya,” kata Romy.
Menurut Romy, semangat tersebut mencakup kemerdekaan, keberanian berdiri sebagai bangsa berdaulat, persatuan, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan cita-cita keadilan sosial.
“Jasadnya beristirahat di sini. Namun api pemikirannya harus tetap hidup di tengah-tengah kita. Jangan hanya mewarisi fotonya, jangan hanya mewarisi namanya. Warisi keberaniannya, kecintaannya pada Indonesia, dan keberpihakannya kepada rakyat,” ujarnya.
Sebagai cucu Bung Karno, Romy juga menegaskan tanggung jawabnya untuk meneruskan cita-cita Sang Proklamator.
“Cita-cita Bung Karno itu memang kewajiban saya sebagai cucu untuk menjalankan. Warisi apinya, bukan abunya. Kalau abu sudah menjadi abu. Api terus membara, kita harus terus bakar,” kata Romy.
Ia juga menyinggung kekayaan sumber daya Indonesia sebagai modal untuk kemajuan bangsa.
“Bangsa ini bangsa yang besar. Kita mempunyai semua resources, kita mempunyai nikel, emas, minyak. Kita harus maju, kita tidak boleh kalah dengan bangsa-bangsa yang lain,” tegasnya.
Romy menilai pembukaan MBK selama 24 jam dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk berziarah dan mengenal kembali gagasan Bung Karno.
“Luar biasa. Ini adalah satu kultur baru yang saya harap bisa membuat masyarakat Blitar maupun seluruh Indonesia yang menghargai jasa Bung Karno mempunyai waktu lebih banyak untuk berziarah dan mendoakan beliau, sehingga apa yang dicita-citakan beliau bisa kita jalankan,” pungkas Romy.
Mas Ibin menegaskan rutinan malam Jumat dan Minggu Kliwon akan terus dijaga sebagai bagian dari ikhtiar merawat ingatan sejarah dan meneruskan warisan pemikiran Bung Karno.
“Insyaallah Minggu Kliwon dan malam Jumat ini menjadi acara rutin, bukti cinta kita kepada Bung Karno dan menghidupkan kembali apa yang telah diwariskan beliau. Sebagaimana kata Mas Romy, api perjuangannya harus kita lanjutkan,” pungkas Mas Ibin.
Dalam acara tersebut, pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Mutaalimin, KH Muhtar Lubby atau Gus Lubby, turut memberikan ceramah. Ia mengangkat kisah kedekatan masyarakat dan ulama Blitar dengan Bung Karno.
Gus Lubby juga memperkenalkan Mbah Joko, yang saat ini berusia sekitar 90 tahun dan disebut sebagai salah satu saksi hidup proses pemakaman Bung Karno di Kota Blitar.
Dalam ceramahnya, Gus Lubby mengisahkan tradisi warga sekitar dan kalangan Nahdlatul Ulama yang menggelar selamatan dan tahlilan di makam Bung Karno selama tujuh malam setelah pemakaman.
“Setelah dimakamkan itu, warga sini sama warga NU selamatan, tahlilan. Tahlilannya di makam. Itu sampai tujuh hari, setiap malam,” tutur Gus Lubby.
Kehadiran Mbah Joko dalam rutinan tersebut menambah nuansa sejarah dalam kegiatan Minggu Kliwon. Momentum itu sekaligus menjadi pengingat bahwa keberadaan makam Bung Karno di Blitar memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah dan ingatan masyarakat setempat.








