SURABAYA – 20 April 2026, Perubahan zaman sedang bergerak sangat cepat, tetapi tidak semua kelompok masyarakat mampu mengikuti laju perubahan tersebut dengan kecepatan yang sama. Di tengah derasnya arus perdagangan digital, menjamurnya pusat perbelanjaan modern, serta semakin kuatnya dominasi pemodal besar dalam sektor perdagangan, para pedagang pasar tradisional di Jawa Timur kini menghadapi tekanan yang semakin berat. Mereka yang selama puluhan tahun menjadi penggerak ekonomi rakyat kecil perlahan mulai tersisih oleh sistem ekonomi yang semakin kompetitif dan tidak selalu berpihak kepada pelaku usaha kecil.
Fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai sekadar perubahan pola belanja masyarakat. Ini adalah persoalan serius yang menyentuh sendi ekonomi wong cilik. Para pedagang pasar tradisional bukan hanya sekadar penjual sayur, ikan, daging, atau kebutuhan rumah tangga. Mereka adalah tulang punggung ekonomi rakyat yang selama ini menjaga perputaran uang di tingkat desa, kecamatan, hingga kota-kota kecil di Jawa Timur. Di pasar-pasar tradisional itulah petani menjual hasil panennya, nelayan menjual tangkapannya, dan masyarakat kecil menggantungkan penghidupannya setiap hari.
Namun kenyataan hari ini menunjukkan bahwa posisi pedagang pasar semakin terjepit. Pendapatan mereka menurun drastis seiring dengan perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin banyak beralih ke perdagangan online dan pusat perbelanjaan modern. Mall-mall besar terus tumbuh dengan fasilitas lengkap, kenyamanan maksimal, dan dukungan modal yang sangat kuat. Di sisi lain, banyak pasar tradisional justru tertinggal dalam hal fasilitas, kebersihan, keamanan, serta kenyamanan bagi pembeli.
Tidak sedikit pasar rakyat di berbagai daerah yang kondisinya memprihatinkan. Drainase buruk, tempat parkir semrawut, fasilitas sanitasi tidak memadai, dan penataan kios yang tidak teratur membuat pasar tradisional semakin sulit bersaing dengan pusat perbelanjaan modern. Ketika pembeli dihadapkan pada pilihan antara pasar yang sempit, panas, dan kurang tertata dengan mall yang bersih, rapi, dan nyaman, maka secara perlahan pembeli pun mulai meninggalkan pasar tradisional.
Situasi ini tentu tidak boleh dibiarkan terus berlangsung tanpa perhatian serius dari pemerintah. Dalam konteks Jawa Timur, peran gubernur menjadi sangat penting dalam memastikan bahwa kebijakan pembangunan tidak hanya berpihak kepada investasi besar, tetapi juga melindungi keberlangsungan ekonomi rakyat kecil. Oleh karena itu, sudah saatnya Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan perhatian yang lebih serius dan nyata terhadap nasib para pedagang pasar tradisional.
Di tengah kondisi tersebut, suara dari anak-anak pedagang pasar mulai muncul sebagai bentuk kegelisahan sekaligus harapan. Salah satu suara itu datang dari Baret Mega Lanang, seorang penulis sekaligus jurnalis yang juga merupakan anak dari keluarga pedagang pasar di Jombang. Ia menyampaikan bahwa para pedagang pasar selama ini sering kali hanya menjadi objek kebijakan, tetapi jarang benar-benar dijadikan subjek dalam pembangunan ekonomi daerah.
Sebagai anak pedagang pasar, Baret Mega Lanang menegaskan bahwa pasar tradisional bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang kehidupan bagi ribuan keluarga kecil di Jawa Timur. Ia mengingat betul bagaimana para pedagang harus bangun sejak dini hari untuk menyiapkan dagangan, menghadapi ketidakpastian pendapatan setiap hari, dan tetap bertahan di tengah berbagai tekanan ekonomi yang semakin berat.
Dalam pernyataannya, Baret Mega Lanang secara terbuka mendesak Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, agar lebih serius memperhatikan kesejahteraan pedagang pasar di seluruh wilayah Jawa Timur. Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan pasar rakyat kalah bersaing tanpa perlindungan kebijakan yang jelas.
“Sebagai anak pedagang pasar dari Jombang, saya melihat langsung bagaimana kerasnya perjuangan para pedagang setiap hari. Pendapatan mereka semakin menurun karena gelombang perdagangan online dan semakin banyaknya pusat perbelanjaan modern. Pemerintah harus hadir untuk melindungi mereka,” ujar Baret Mega Lanang.
Ia menilai bahwa langkah paling mendesak yang harus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah melakukan peremajaan pasar rakyat secara menyeluruh. Banyak pasar tradisional yang kondisinya sudah tidak layak sehingga membuat pembeli enggan datang. Padahal jika pasar diperbaiki dengan fasilitas yang lebih baik, maka daya tariknya bisa kembali meningkat.
Menurut Baret Mega Lanang, pemerintah provinsi juga harus memberikan arahan yang tegas kepada para bupati dan wali kota di Jawa Timur agar menjadikan revitalisasi pasar rakyat sebagai prioritas pembangunan daerah. Pasar tradisional tidak boleh lagi dipandang sebagai sektor ekonomi kelas dua yang hanya diperhatikan ketika ada agenda politik atau kegiatan seremonial.
Selain perbaikan infrastruktur pasar, ia juga mendorong agar pemerintah memberikan program edukasi dan sosialisasi kepada para pedagang pasar mengenai perubahan sistem perdagangan di era digital. Para pedagang perlu dibantu agar mampu beradaptasi dengan teknologi sehingga mereka tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
Lebih jauh lagi, Baret Mega Lanang menekankan pentingnya perlindungan sosial bagi pedagang pasar, terutama dalam hal jaminan kesehatan dan kesejahteraan. Banyak pedagang pasar bekerja dalam sektor informal tanpa perlindungan kesehatan yang memadai. Ketika mereka sakit, sering kali mereka harus menanggung biaya pengobatan sendiri dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil.
“Pedagang pasar itu bekerja dari dini hari sampai sore, bahkan malam. Mereka berjuang setiap hari demi keluarga. Sudah seharusnya negara hadir menjamin kesehatan mereka dan memastikan kesejahteraan mereka,” tegas Baret Mega Lanang.
Ia juga mendorong agar Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuat program perlindungan sosial yang lebih kuat bagi pedagang kecil, termasuk memastikan mereka terdaftar dalam sistem jaminan kesehatan serta mendapatkan akses terhadap berbagai program pemberdayaan ekonomi.
Selain itu, perhatian terhadap keluarga pedagang pasar juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Anak-anak pedagang pasar sering kali menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan yang lebih baik karena kondisi ekonomi keluarga. Oleh karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan adanya program beasiswa bagi anak-anak pedagang pasar agar mereka memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Menurut Baret Mega Lanang, kebijakan seperti ini tidak hanya akan membantu pedagang pasar secara langsung, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan masyarakat kecil di Jawa Timur.
Ia menegaskan bahwa pasar rakyat tidak boleh dibiarkan melemah di tengah arus modernisasi ekonomi. Jika pasar tradisional mati, maka ribuan keluarga kecil akan kehilangan sumber penghidupan mereka. Oleh karena itu, pemerintah harus mengambil langkah nyata untuk memastikan bahwa pasar rakyat tetap menjadi bagian penting dari sistem ekonomi daerah.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh hanya berpihak kepada kekuatan modal besar. Ekonomi rakyat juga harus mendapatkan ruang yang adil dalam kebijakan pembangunan daerah.
Kini masyarakat menunggu langkah nyata dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa, untuk memastikan bahwa pasar tradisional tetap hidup dan para pedagang kecil tidak ditinggalkan oleh perubahan zaman. Bagi banyak keluarga di Jawa Timur, pasar rakyat bukan sekadar tempat berdagang, tetapi juga ruang harapan untuk mempertahankan kehidupan yang layak di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks. (*)











