KafeBerita.com, Blitar – Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin yang akrab disapa Mas Ibin membuka ruang dialog langsung dengan masyarakat untuk mendengar aspirasi, keluhan, hingga kritik terhadap berbagai kebijakan Pemerintah Kota Blitar. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui podcast bertajuk “Netizen Bertanya, Mas Wali Menjawab” yang digelar di Litera Coffee and Space, Dinas Perpustakaan Kota Blitar, Sabtu malam (5/9/2026).
Tidak seperti forum pemerintahan yang berlangsung formal, dialog dikemas dalam suasana santai dengan menghadirkan perwakilan masyarakat sebagai peserta. Pembahasan kemudian disiarkan secara on air melalui Radio Mahardhika FM dan streaming platform digital sehingga jangkauannya dapat diterima masyarakat lebih luas.
Bagi Mas Ibin, komunikasi langsung dengan warga penting agar pemerintah tidak hanya menyampaikan kebijakan, tetapi juga mengetahui secara langsung persoalan yang dirasakan masyarakat. Berbagai pertanyaan maupun kritik yang muncul dinilai sebagai bagian dari proses evaluasi terhadap kebijakan pemerintah daerah.
“Ini penting, karena banyak kebijakan masyarakat yang kurang memahami isu-isu. Maka, kita sebagai pemerintah perlu memberikan pemahaman yang menjadi keluhan masyarakat,” kata Mas Ibin.
Menurutnya, dialog terbuka juga menjadi ruang bagi pemerintah untuk menjelaskan latar belakang sebuah kebijakan sekaligus mendengarkan masukan dari masyarakat. Salah satu isu yang dibahas dalam forum tersebut adalah layanan 24 jam di Makam Bung Karno (MBK) yang sebelumnya menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.
Mas Ibin menegaskan berbagai pandangan yang berkembang tetap menjadi perhatian pemerintah. Aspirasi masyarakat, termasuk kritik terhadap kebijakan, akan menjadi bahan evaluasi untuk melihat hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Sikap terbuka tersebut juga terlihat dari keterlibatan masyarakat yang selama ini menyampaikan aspirasi melalui berbagai saluran komunikasi pemerintah. Dalam kegiatan ini, Pemkot Blitar mengundang perwakilan pedagang di kawasan Makam Bung Karno dan Istana Gebang, paguyuban pedagang Taman Kebon Rojo, hingga masyarakat yang sebelumnya menyampaikan persoalan melalui layanan Sapa Mas Wali.

Salah satu aspirasi datang dari Hisan, perwakilan pedagang kaki lima di kawasan Kebon Rojo. Ia menyampaikan persoalan yang dihadapi pedagang yang selama ini berjualan di Jalan Diponegoro.
Hisan mengakui keberadaan PKL di lokasi tersebut terbentur ketentuan Peraturan Daerah yang mengharuskan jalur itu steril dari pedagang. Namun, ia berharap pemerintah dapat menemukan solusi yang tetap mempertimbangkan keberlangsungan ekonomi para pedagang.
“Saya sudah pernah pindah di Jl. TGP, tapi tiga bulan sepi pembeli. Pangsa pasar saya ya di Jl. Diponegoro ini, jadi saya mohon ada kebijakan,” tegas Hisan.
Dialog tersebut menunjukkan bahwa Pemkot Blitar membuka ruang komunikasi terhadap persoalan yang muncul di lapangan, termasuk ketika masyarakat menyampaikan pandangan yang berbeda dengan kebijakan pemerintah.
Melalui forum “Netizen Bertanya, Mas Wali Menjawab”, Mas Ibin ingin komunikasi pemerintah dan masyarakat berjalan dua arah. Pemerintah tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendengar langsung pengalaman warga sebagai bagian dari proses menyusun evaluasi dan memperbaiki kebijakan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat masyarakat semakin mudah menyampaikan persoalan sekaligus memperoleh penjelasan langsung mengenai berbagai kebijakan yang dijalankan Pemerintah Kota Blitar.










